Jangan Sembarangan Menambahkan Kerupuk ke Makanan

Bagi sebagian orang, makan mungkin hanya urusan mengisi perut keroncongan. Memasukkan karbohidrat, tambah lauk, kasih kuah atau sambal, selesai. Namun, bagi kaum yang menjadikan proses menyantap makanan bak ritual sakral pendalaman rasa, tentu tidak sesederhana itu.

Itu mengapa, soal ornamen dalam sebuah hidangan saya agak sensitif, termasuk pendamping. Di antara sekian banyak pendamping, kerupuk adalah yang paling umum dijumpai sekaligus paling sering digunakan secara serampangan.

Ketidakpahaman soal etika tersebut dapat membuat kerupuk di dalam makanan seperti pedang bermata dua. Sepiring atau semangkuk sajian dapat terasa seperti naik level (bukan dalam artian pedas), juga sebaliknya, ia dapat “merusak” harmoni rasa yang sudah ada.

Agar pengalaman menikmati otentisitas rasa pada sebuah hidangan berjalan lancar sekalipun menyantapnya bersama kerupuk, saya membagi kerupuk ke dalam tiga kelompok:

Enak Dimakan Sendiri, Kurang Cocok Dijadikan Pendamping

Kelompok pertama adalah jenis kerupuk yang punya kepribadian terlalu kuat. Mereka terlahir sebagai bintang utama, bukan pemeran pendukung. Sebutlah kerupuk jengkoll, rengginang, dan segala jenis kerupuk dengan lapisan manis karamel.

Kerupuk jenis ini sudah memiliki karakter rasa yang cukup untuk dinikmati sendirian. Ada rasa gurih yang menonjol, aroma tajam, hingga tekstur yang terlampau renyah. Unsur-unsur yang menjadi keunggulan tersebut justru bisa menjadi masalah ketika dipertemukan dengan makanan lain.

Bayangkan sebuah hidangan yang sudah diracik sedemikian rupa untuk menghasilkan perpaduan rasa yang seimbang. Aroma rempah, gurih kaldu, sedikit rasa manis, sensasi pedas yang tertinggal, semuanya sudah bekerja sesuai porsi masing-masing. Lalu, datanglah salah satu dari ketiga kerupuk tadi. Bukanya saling melengkapi, mereka justru bertarung di dalam mulut.

Kurang Nikmat Dimakan Sendiri, Lebih Cocok jadi Pendamping

Kebalikan dari kelompok pertama, kelompok ini diisi oleh jenis kerupuk yang terlahir rendah hati. Jika dimakan sendirian tanpa ada yang menemani, rasanya biasa saja – bahkan cenderung hambar, membosankan, dan cuma bikin haus.

Contohnya adalah kerupuk mawar putih (kerupuk kaleng), kerupuk mie kuning, serta kerupuk kulit sapi yang dikenal juga dengan nama kerupuk rambak. Jika kerupuk-kerupuk ini dikunyah seorang diri, rasa yang tertinggal jejak minyak dan rasa yang nanggung. Apalagi kerupuk rambak, empat sampai lima suapan saja sudah bikin seret.

Namun, kondisinya akan berubah ketika mereka dipertemukan dengan sebuah hidangan. Saat kerupuk kaleng bertemu nasi campur, kerupuk mie kuning bersanding dengan gado-gado, hingga kerupuk kulit dalam semangkuk nasi rawon.

Mereka menyerap kuah dan minyak gurih tanpa merusak karakter asli masakannya. Menyumbang tekstur kriuk yang menyempurnakan setiap suapan. Kerupuk kelompok ini paham betul posisinya sebagai pendamping, dan mereka menjalankan tugasnya dengan teramat baik.

Enak Dimakan Sendiri, Lebih-Lebih saat Dijadikan Pendamping

Saya menggambarkan kelompok ketiga ini seperti Reza Rahadian. Berdiri sendiri sebagai aktor utama pun kapasitasnya sudah teruji dan memukau. Namun, saat disandingkan dengan proyek film mana pun, ia selalu bisa melebur secara natural.

Kelompok kerupuk ini punya karakter rasa yang cukup kuat untuk dinikmati sendirian, tetapi juga cukup fleksibel untuk bersanding dengan makanan lain. Tidak terlalu dominan, tidak pula terlalu pasif. Mereka tahu kapan harus menunjukkan keunggulan dan kapan harus memberi ruang bagi makanan utama.

Sebut saja kerupuk udang tipis dan kerupuk kemplang/ikan. Keduanya bisa dinikmati sebagai camilan dengan sentuhan hint udang atau ikan serta tekstur renyah yang pas, tanpa membuat kita merasa ada yang kurang. Namun, ketika dipertemukan dengan hidangan yang tepat, kenikmatannya justru meningkat. Bukan hanya karena ada tambahan rasa, melainkan karena terjadi interaksi antara tekstur kerupuk dan karakter makanan yang menyertainya.

Pada makanan berkuah seperti soto, misalnya, kerupuk yang tepat bisa memberikan pengalaman makan yang lebih menarik. Permukaannya mulai menyerap kuah gurih, sementara bagian lainnya masih mempertahankan sedikit kerenyahan. Kita mendapatkan perpaduan tekstur yang tidak sepenuhnya renyah, tetapi juga belum sepenuhnya lembek.

Ada sensasi tersendiri ketika rasa asli kerupuk bertemu dengan gurihnya kuah. Keduanya tidak saling mengalahkan, melainkan menghasilkan perpaduan yang lebih kaya. Kerupuk tetap terasa sebagai individu sendiri, sementara makanan utama tidak kehilangan identitasnya.

Dari ketiga kelompok tersebut, saya ingin menegaskan satu hal: kerupuk bukan sekadar ornamen yang bisa ditambahkan sesuka hati. Setiap kerupuk punya karakter, dan karakter itulah yang menentukan bagaimana sebaiknya ia dinikmati.

Pun membagi kerupuk ke dalam tiga kelompok di atas bukan berarti saya ingin bersikap sok elit dalam urusan makan. Ini hanya bentuk kepedulian terhadap harmoni rasa dan apresiasi atas racikan hidangan yang disajikan di atas piring.

Jadi, saran saya, sebelum asal comot kerupuk, cobalah cicipi dulu satu-dua suapan masing-masing, baru setelah itu secara bersamaan. Jika saat dipadukan ternyata kurang cocok, biarkan kerupuk itu dimakan terpisah tanpa harus merusak rasa masakan utamanya.

Namun tentu saja, semua kembali ke selera dan kehendak masing-masing. Sebab di hadapan piring sendiri, setiap orang adalah raja atas lidahnya.

“Kalau seblak bagaimana mas?” Maaf saya tidak akan terpancing. Tidak ada yang salah dengan makanan itu. Selamat makan!

Tinggalkan Komentar