
Diujung tahun 2025 banyak yang terjadi di industri SEO, yang kebanyakan bagian utamanya karena kehadiran AI dengan segala jenisnya.
Kemarin ada webinar menarik dari para pelaku SEO dari berbagai industri yang menceritakan pengalaman mereka selama setahun terakhir dan what’s next to do di 2026.
Saya telah merangkumnya kurang lebih sebagai berikut:
1. Tahun Depan SEO tidak Terpakai
Tenang, ini hanya cerita dari salah satu panelis yang kliennya mengatakan bahwa ingin menghentikan campaign SEO mereka.
Alasannya karena klien tersebut tidak merasakan impact strategi ini terhadap bisnis mereka. Meskipun panelis menegaskan bahawa KPI trafik mereka tercapai terus.
Namun, hal tersebut tidak mengubah klien tersebut untuk tetap percaya pada strategi SEO yang telah dijalankan.
2. Zero Click is Real
Fenomena yang viral dan mulai terasa efeknya sejak kehadiran AI ini seolah terkonfirmasi dari beberapa cerita para panelis yang mengalami kejadian ini.
Mungkin teman-teman juga sempat mengikuti istilah yang menggambarkan situasi ini kemarin, yang disebut Crocodile Mouth.
Hal tersebut merujuk pada grafik di Google Search Console yang terlihat seperti mulut buaya karena naiknya impression sementara click perlahan menurun.
AI telah mengubah behaviour dari audiens mereka saat melakukan pencarian sehingga tidak perlu direct ke website mereka. Dari adanya LLM seperti chat GPT atau semacam summaries di SERP seperti AI Overview.
3. Beberapa Segmen Industri tidak Terdampak Zero Click
Meski banyak yang mengalami zero click, namun ternyata ada panelis yang menangani SEO di salah satu segmen industri tidak terlalu terdampak.
Beliau menceritakan di salah satu perusahaan yang ia tangani yang bergerak di bidang health atau kesehatan performanya masih cukup stabil.
Hal ini tentu menjadi semacam sinyal positif, bahwa di beberapa topik, audiens masih lebih memilih langsung mencari ke sumber yang dirasa kredibel daripada bertanya ke AI.
4. Service AI SEO, GEO bisa jadi Opportunity di 2026
Kembali ke panelis yang kliennya memutuskan untuk menghentikan kampanye SEO-nya. Beliau juga menutup dengan kabar yang bisa menjadi semacam harapan baru.
Kata beliau akhir-akhir ini ia mendapat tawaran dari berbagai klein untuk optimasi AI SEO di perusahaan mereka.
Panelis yang lain juga seolah menguatkannya, bahwa ia sedang mengerjakan proyek untuk mengubah deskripsi salah satu brand di AI Overview/LLM.
Dimana deskripsi dari brand tersebut malah merujuk kepada pihak yang salah dan brand tersebut takut akan dijadikan kesempatan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
5. Perimbangkan Conversational Queries
Dengan semakin banyaknya audiens yang berinteraksi dengan LLM untuk memperoleh jawaban, para pelaku SEO pun perlu menyesuaikan diri.
Salah satu panelis mengatakan bahwa mereka akan mulai menggarap dengan serius terminologi yang belakangan muncul AIO, GEO, AEO. Kalau saya sih menganggapnya SEO di AI dengan segala jenisnya.
Ia, mulai mulai merancang strategi tahun depan untuk memaksimalkan kehadiran situs di berbagai AI. Salah satu yang ia highlight adalah riset conversational queries.
6. Be Exist in Every Platform (Multichannel)
Brand share of voice akan menjadi hal yang sangat penting di tahun depan. Dimana kita harus eksis di semua platform dimana audiens kita berinteraksi.
Mungkin beberapa tahun kebelakang kita bisa hanya bertumpu pada performa SEO, namun sepertinya akan cukup berat jika hanya mengandalkan SEO semata. Terutama, bagi yang mulai fokus ke AI.
Seperti yang kita tahu, AI mengambil kutipan konten dari situs brand yang memiliki otoritas atau yang sudah terkenal. Salah satu indikator terkenalnya saat ini dikaitkan dengan seberapa banyak brand tersebut disebut di banyak media atau platform.
Hal ini juga saya rasakan belakangan, dimana sosial media seperti Instagram, seolah sedang mendapat prioritas di SERP. Karena beberapa keyword yang sedang saya optimasi, muncul salah satu konten feed Instagram di halaman pertama.
Padahal, konten tersebut hanya di upload sekitar 2 hari dan langsung terindeks. Selain itu, ketika saya lihat kontennya juga cenderung “spam”.
7. Kembali ke Menulis untuk Manusia
Hampir di penghujung webinar. Salah satu panelis yang kalimatnya cukup mengena dan menjadi pengingat untuk saya.
Di era automasi ini, terkadang kita terlena akan kepraktisan sehingga melupakan esensi dari pembuatan konten itu sendiri.
Kita membuat konten sejatinya tujuannya adalah untuk dibaca oleh manusia, terlepas dari medianya entah itu website, LLM, AI Overview. Pada akhirnya yang menjadi pembaca utamanya adalah manusia.
Jadi, bagaimanapun cara kita memproduksi konten, apapun tools yang kita gunakan, tetap pastikan konten tersebut layak dibaca oleh manusia.
8. 2026 Fokus ke Hal yang Ngebantu Bisnis
Terakhir, sebagai penutup yang pas menurut saya karena bisa diterjemahkan sesuai dengan tujuan masing-masing bisnis dan praktisi SEO.
Tahun depan, jika mendapat proyek sebelum mulai mengeksekusinya sepakati dulu apa yang diharapkan (KPI), apakah brand awareness, conversion, atau sekedar trafik.
Hal tersebut penting, karena seringkali terjadi miss-match antara ekspektasi klien dan realita teknis. Klien mungkin mengira ranking 1 otomatis berarti banjir orderan, padahal belum tentu.
Dengan menyepakati KPI, kita bisa menggabungkan peran SEO dengan media strategis lainnya seperti media sosial agar benar-benar sesuai dengan arah pertumbuhan bisnis mereka di tahun 2026 nanti.
Kesimpulan
Jika merangkum seluruh poin di atas, narasi “SEO is Dead” yang sering terdengar setiap tahun tampaknya kurang tepat. Yang mati adalah taktik lama yang kaku.
Tahun 2026 menuntut kita untuk menjadi lebih adaptif memahami teknis AI (AIO/GEO), memperluas jangkauan ke multi-platform, namun tetap berpegang teguh pada esensi human centric.
Tantangan zero click dan dominasi AI memang nyata, tetapi peluang baru di ranah brand authority dan optimasi bisnis juga terbuka lebar.
Kuncinya bukan lagi sekadar mengejar rangking, melainkan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan pada pertumbuhan bisnis klien. Entah itu lewat trafik, awareness, atau konversi nyata.
Mari sambut 2026 bukan dengan ketakutan akan AI, tapi dengan kesiapan untuk beradaptasi.