
Seperti biasa pagi dimulai dengan standar kehidupan rata-rata warga negara berkembang, perut lapar, dompet pas-pasan, dan sarapan dengan makanan yang relevan dengan kualitas hidup. Pilihan jatuh pada nasi pecel Rp 10.000.
Begitulah wujudnya. Nasi yang dibungkus koran bekas yang dijepit karet gelang oranye dengan kekuatan rapat setara pertahanan Manchester United era Jose Mourinho. Ia hangat, berminyak, dan aromanya memanggil jiwa.
Namun, saat jari saya hendak membongkar pertahanan itu, terjadi sebuah plot twist.
Saya terdiam sejenak dengan tangan menggantung di udara dengan pandangan tertuju kepada gambar wajah pria berkacamata dan peci hitam. Sosok yang sangat familier terpampang di buku pelajaran dan tembok kelas Sekolah Dasar.
Disampingnya ada kutipan yang selamat dari lipatan:
“Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru.”
Itu, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita, sedang berceramah di atas nasi pecel saya.
Sebagai pemuda yang hidup di era informasi instan, tidak jarang terpotong-potong, saya sudah terbiasa dengan pencarian konteks apa maksud dari beliau berkata demikian.
Saya jadi teringat mba @maudyayunda pernah menggunakan kutipan ini di postingan Instagramnya yang diuanggah di Hari Pendidikan dua tahun lalu. Dan memang setelah saya dalami, kutipan ini sarat akan konteks pendidikannya.
Pertama, Ki Hajar Dewantara bilang sekolah itu bisa di mana saja. Dan benar saja, pagi ini sekolah saya adalah meja berantakan dengan kurikulum singkat selembar kertas bungkus nasi. Dan ya mungkin dalam praktiknya ini cukup sederhana, dimana kita bisa mendapat hal pelajaran di setiap tempat.
Sementara untuk bagian kedua itu, “jadikan setiap orang sebagai guru”, yang agak tricky kalau diterapkan hari ini.
Mari kita renungkan kejadian-kejadian viral belakangan. Ada orang marah-marah ke kurir karena paket COD tak sesuai ekspektasi, pejabat yang pamer harta saat rakyatnya antre beras, hingga influencer yang bikin sensai dengan konten vulgar demi adsense.
Apakah mereka guru? Tentu saja.
Tapi bukan guru yang mengajarkan “tirulah aku”, melainkan guru dengan metode reverse psychology yang mengajarkan “jangan menjadi sepertiku”
Mereka mengajarkan kita tentang nilai kesabaran (saat melihat kelakuan mereka), tentang nilai etika (dengan melihat ketiadaan etika mereka), dan tentang rasa syukur (bersyukur kita masih waras).
Saya akhirnya membuka bungkus itu pelan-pelan, berusaha tidak merobek wajah Ki Hajar Dewantara (takut kualat) lalu menelan kalimat sekaligus isi didalamnya.