Review Film Khadam

Review Film Khadam

Jujur, alasan saya menonton Khadam ini adalah ingin melihat Mbak Aghniny Haque berbahasa melayu. Namun, ternyata di awal saya sudah dibuat kecewa. Karena hampir sepanjang film Melor hanya menggunakan isyarat untuk berkomunikasi.

Untungnya, kekecewaan kecil itu tidak lantas membuat pengalaman menonton saya ikut mengecawakan sepenuhnya. Sejak awal, Khadam sudah cukup berhasil membangun atmosfer menegangkan lewat adegan penuh kepanikan, visual yang gelap, dan skoring yang apik. Film ini seperti tidak ingin memberi penontonnya banyak kesempatan untuk merasa tenang.

Berlatar di pedalaman Malaysia pada 1957, film garapan Shamyl Othman ini mengikuti kehidupan Melor (Aghniny Haque), seorang tunawicara yang tinggal bersama kedua anaknya, Puteh (Zarra Zaff) dan Hitam (Karl El), serta khadam sosok “pelayan” warisan ibunya yang telah meninggal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka.

Dari premisnya, Khadam punya bahan yang menarik untuk dikembangkan. Ada teror supernatural, warisan keluarga, dan kehidupan rumah tangga yang tidak baik-baik saja. Namun, bagi saya, persoalannya bukan semata-mata tentang bagaimana Melor menghadapi makhluk gaib, melainkan juga bagaimana ia berusaha mempertahankan kendali atas kehidupannya sendiri.

Kembali ke urusan horor, ketegangan yang sukses dibangun di awal dibuat terasa hambar kala kehadirannya terornya yang begitu rapat. Memang cara tersebut cukup efektif untuk menciptakan rasa takut, hanya saja kalau terus-menerus dilakukan, seolah menjadi sebuah kewajiban (baca dipaksakan), bukan sesuatu yang tumbuh secara alami dari cerita.

Urusan visual juga punya masalah serupa. Saya memahami bahwa color grading yang gelap dan kekuningan selain untuk membangun suasana mencekam, juga untuk mendukung latar masa lampau yang saya kira agak berlebihan. Karena sebenarnya kebutuhan tersebut sudah diwakilkan oleh kostum, properti, tata rias serta set lokasi yang sudah cukup membantu. Alih-alih membuat penonton harus mendekatkan jarak pandang ke layar agar bisa melihat ekspresi Mbak Aghny pada malam hari.

Di luar urusan teknis tersebut, saya cukup terkesan dengan karakter suami istri, Melor dan Awang, dalam relasi patriarki dan KDRT. Remy Ishak sebagai Awang menjalankan peran suami yang ringan tangan, merasa superior, namun tetap memiliki rasa ciut ketika menghadapi perlawanan. Juga Aghniny Haque yang meski tidak banyak berbicara, masih mampu menyampaikan perasaan sedih, marah, serta sikap perlawanan perempuan dalam diri karakternya melalui ekspresi dan bahasa tubuh.

Perlawanan Melor di tengah film juga membuat karakternya tidak sekadar menjadi korban yang menunggu keadaan membaik. Ia berusaha menghadapi situasi yang mengekangnya, meskipun keberanian saja tidak selalu cukup untuk membebaskan seseorang dari keadaan yang sulit. Di titik ini, Fariza Aslina membuat Khadam memiliki bahan cerita yang menarik karena horornya bersinggungan dengan persoalan yang kehidupan nyata.

Namun lagi-lagi, meski bumbu-bumbu isu sosial tersebut memberi lapisan yang menarik, tetapi pengalaman menonton saya masih memiliki ganjalan, terutama bagaimana film ini mengakhiri ceritanya.

Penyelesaian terornya terasa seperti pola horor lama: ketika keadaan semakin genting, membaca Ayat Kursi menjadi jalan untuk menghadapi ancaman. Saya tidak mempermasalahkan penggunaan unsur religius dalam film horor. Justru, unsur semacam itu bisa terasa masuk akal ketika berangkat dari kepercayaan yang hidup di masyarakat.

Yang membuat saya bertanya-tanya adalah bagaimana penyelesaian tersebut dibangun. Pasalnya, Manis (Siti Khadijah Halim), adik Melor, sebenarnya sudah menyarankan Ayat Kursi sebagai bentuk penjagaan di bagian tengah film. Jadi, gagasan tersebut bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba menjelang akhir.

Saya bisa memahami bahwa Melor mungkin ragu, atau ada keadaan yang membuatnya sulit mengikuti saran Manis. Karena itu, bagi saya, masalahnya bukan terletak pada doa yang digunakan untuk menghadapi teror, melainkan pada bagaimana cerita membangun hambatan bagi karakternya. Karena sebuah solusi yang sudah diperkenalkan di awal tetap bisa menghasilkan akhir yang menegangkan, asalkan ada alasan kuat mengapa karakter tidak dapat menggunakannya dengan mudah.

Meski memiliki sejumlah ganjalan, saya tetap menganggap Khadam layak ditonton. Film ini punya atmosfer yang cukup efektif, mampu menciptakan sejumlah momen menegangkan, dan mengangkat persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan makhluk gaib, tetapi juga dengan tekanan sosial yang dialami perempuan. Juga kolaborasi film horor dari dua negara bertetangga ini menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.

Selain itu, saya kira bagi penonton Indonesia memberi interpretasi baru soal entitas khodam yang bukan hanya macan atau kera putih. Oh iya, Fyi, kata orang di TikTok khodam saya burung blekok.

Tinggalkan Komentar