
Ini terhitung kedua kali saya menonton film ini. Film yang menginspirasi saya pergi sendiri ke kota lain, menghafal kode dan rute angkot, berkeliling kota tanpa transportasi pribadi – tanpa tujuan. 18×2 Beyond Youthful Days, karya Michihito Fujii, memberi saya sudut pandang baru tentang perjalanan hidup, pertemuan, dan pentingnya sesekali keluar dari rutinitas.
Tidak berhenti pada perkara dua orang yang pernah saling jatuh cinta. Film ini menawarkan sesuatu yang lebih personal tentang perjalanan, kenangan, kehilangan, dan keberanian untuk melanjutkan hidup.
“Taking a breather give us perspective about what’s important in our lives ”
Mengikuti kisah Jimmy (Greg Hsu), seorang pria 36 tahun pendiri perusahaan video game terkenal di Taipei yang dipecat oleh direksi perusahaannya sendiri. Ia pun memutuskan untuk menenangkan diri dengan kembali ke rumah orang tuanya di Tainan, Taiwan.
Tak disangka, keputusan tersebut samar-samar membangkitkan momen bersama Ami (Kaya Kiyohara) seorang turis jepang yang dikenalnya 18 tahun silam. Hingga saat membereskan kamar, ia menemukan sebuah kartu pos yang mengusik ingatan sekaligus membulatkan tekadnya memulai sebuah perjalanan.
Pelesiran Jimmy di Jepang menjadi bagian yang menarik untuk diikuti. Setelah kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian besar dari kehidupannya, ia justru bergerak menuju kenangan yang telah lama ditinggalkan.
Namun, perjalanan ini tidak semata-mata menjadi upaya untuk menemukan kembali Ami. Ada pengalaman dan pertemuan baru yang membuatnya melihat kembali masa lalu dari sudut pandang yang berbeda.
Salah satu aspek yang cukup menonjol dari film ini adalah sinematografinya. Lanskap Jepang ditampilkan dengan indah, mulai dari suasana kota hingga pemandangan alamnya saat musim dingin. Visual pantai Yuigahama hingga hamparan salju sepanjang jalur kereta Liyama menuju stasiun Morimiya-Nohara, memberikan ruang bagi penonton untuk ikut menikmati perjalanan tersebut, sekaligus memperkuat atmosfer melankolis yang menyelimuti cerita.

Ada kesan tenang yang membuat kita tidak hanya mengikuti tujuan Jimmy, tetapi juga menikmati proses perjalanannya. Situasi coming-of-age juga dieksekusi dengan baik melalui alur well-paced. Penonton dibawa bergantian antara masa lalu dan kini.
Terkadang, Kita Perlu Berhenti Sejenak
Di luar kisah cinta Jimmy dan Ami, ada dua hal yang paling membekas bagi saya setelah menonton film ini: perjalanan dapat membantu kita melihat hidup dari sudut pandang berbeda, dan beristirahat bukan berarti menyerah.
Sebagai orang yang lebih sering menghabiskan waktu libur di rumah, saya tidak menganggap bepergian sebagai sebuah keharusan. Namun, ada kalanya rutinitas yang terus berulang membuat hidup terasa monoton. Kita sibuk menjalani hari demi hari, tetapi lupa memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengalami sesuatu yang berbeda.
Pelesiran menawarkan kemungkinan tersebut. Kita bisa bertemu orang baru, melihat tempat yang belum pernah dikunjungi, dan mengalami kejadian yang tidak selalu sesuai rencana. Justru karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi, perjalanan bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Terkadang, hal-hal yang tidak direncanakan justru menjadi bagian paling berkesan.
Hal lain yang saya dapatkan dari film ini adalah pentingnya mengambil jeda. Kita sering merasa harus terus bergerak, mengejar target, menyelesaikan pekerjaan, dan memenuhi berbagai harapan. Bahkan ketika lelah, kita terkadang merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Seolah-olah berhenti sebentar berarti tertinggal dari orang lain.
Padahal, beristirahat bukan berarti menyerah. Ada kalanya kita perlu memulihkan tenaga, menimbang kembali arah perjalanan, atau sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami apa yang sedang dirasakan. Kita tidak harus selalu berlari hanya untuk membuktikan bahwa kita sedang bergerak maju.
“Rest paves the long road ahead”
18×2 Beyond Youthful Days juga mengingatkan saya bahwa orang-orang datang dan pergi – itu tidak masalah – itulah hidup. Namun, pertemuan-pertemuan tersebut memberi kesan dan makna.
Pada akhirnya, hidup bukan cuma tentang mencapai tujuan. Ada pertemuan yang mengubah cara pandang, pengalaman yang tidak pernah direncanakan, perpisahan yang harus diterima, dan jeda yang kita perlukan sebelum kembali melangkah.
Kalau sedang lelah, beristirahatlah. Kalau hidup terasa monoton, cobalah melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Kalau ada mimpi yang sudah lama terlupakan, tidak ada salahnya mengingatnya kembali.
Sebab, perjalanan yang panjang tidak selalu menuntut kita untuk terus berlari. Terkadang, kita hanya perlu berhenti sejenak untuk menyadari ke mana sebenarnya kita ingin pergi. Maka dari itu sesekali berpelesirlah!
“Sometimes we need to travel reassess our own life.”