Review Film Memburu Pemangsa

Review Film Memburu Pemangsa

Semacam penyegaran dalam perfilman tanah air dengan mengangkat genre yang cukup jarang diangkat – perpaduan crime thriller dengan investigasi jurnalistik. Setidaknya itu yang terbayang ketika melihat trailernya.

Jadi begitu selesai menonton trailernya, saya dan mungkin kebanyakan orang datang ke bioskop dengan rasa penasaran bagaimana Agnes (Laura Basuki), Cia (Prilly Latuconsina), Brina (Taskya Namya), dan Anya (Yasamin Jasem) merangkai petunjuk dalam memburu sang pemangsa.

Salah satu hal yang cukup saya nikmati dari Memburu Pemangsa ada pada nuansa visualnya.

Warna dan latar tempat kejadian yang dibangun sejak awal cukup berhasil menciptakan atmosfer yang sesuai dengan cerita. Ada kesan muram dan misterius yang membuat kita percaya bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik kasus yang sedang diselidiki.

Setidaknya pada bagian awal, film ini punya modal yang cukup untuk membuat penonton betah mengikuti perjalanan para karakternya.

Sayangnya, ekspektasi itu kemudian harus berkompromi dengan sesuatu yang tidak terlalu saya bayangkan sejak awal: sixth sense dan horor supranatural.

Bukan berarti kehadiran genre tersebut adalah sebuah masalah. Hanya saja perpindahan fokus tersebut membuat identitas film sedikit goyah. Elemen sixth sense yang dihadirkan membuat alur investigasi terasa “terpotong”.

Di awal, kita seperti diajak mengikuti penyelidikan kasus serial killer oleh sekelompok jurnalis dan polisi. Namun semakin film berjalan pertanyaan penonton pun mulai berubah dari, “siapa pelakunya, bagaimana mereka menemukan petunjuk, apa hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya?” Kemudian perlahan bergeser menjadi, “sebenarnya kita sedang memburu pemangsa dengan cara investigasi, atau menunggu petunjuk datang melalui sesuatu yang berada di luar logika?”.

Meski pun demikian, mungkin saya dapat sedikit memahami maksud sang sutradara (Umay Shahab) menghadirkan elemen kemampuan supranatural dalam film ini.

Terlepas dari semua hal tadi, di tengah segala keriuhan elemen yang ada, saya mengapresiasi satu hal film ini yang mana membawa persoalan sosial yang nyata ke dalam ceritanya.

Penculikan anak di Indonesia bukan sekadar dijadikan tempelan untuk membuat cerita terlihat serius. Persoalan tersebut mendapatkan tempat yang cukup penting dalam cerita dan menjadi salah satu alasan mengapa kasus yang sedang diburu oleh para karakter terasa relevan dengan kehidupan nyata.

Ini menarik. Karena di satu sisi Memburu Pemangsa tetap merupakan film yang dibuat untuk menghibur dan dijual sebagai tontonan komersial. Tetapi di sisi lain, film ini mencoba membawa penonton melihat persoalan yang jauh lebih serius di balik cerita fiksinya.

Hanya saja, ada satu hal yang menurut saya agak disayangkan.

Pesan mengenai isu nyata yang menjadi latar belakang film justru terasa lebih jelas setelah melihat credit scene.

Artinya, penonton yang langsung meninggalkan bioskop ketika credit mulai berjalan mungkin tidak mendapatkan konteks sepenuhnya mengenai persoalan nyata yang ingin disorot film ini.

Padahal kalau pesan tersebut sedikit lebih terintegrasi ke dalam tubuh cerita, dampaknya mungkin akan terasa lebih kuat.

Pada akhirnya, Memburu Pemangsa bagi saya adalah sebuah usaha yang menarik, terutama karena keberaniannya mencoba menggabungkan investigasi jurnalistik, crime thriller, dan unsur supranatural dalam satu cerita.

Sayangnya, perpaduan tersebut juga menjadi pedang bermata dua.

Ketika ekspektasi penonton sudah dibangun sebagai sebuah perjalanan investigasi untuk memburu seorang pemangsa, film ini justru beberapa kali membawa kita ke wilayah yang berbeda. Atmosfernya ada, premisnya menarik, isu sosialnya penting, tetapi proses memburu sang pemangsa itu sendiri belum memberikan sensasi perburuan yang benar-benar menggigit.

Tinggalkan Komentar