
Film dengan genre horor seperti nasi bagi kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya. Teror berbagai varian hantu lokal ditambah sound effect sedikit dibawah sound horeg sukses membuat senam jantung para penontonnya.
Namun, ketika menonton Shaitaan (2024) garapan Vikas Bahl saya merasakan teror yang berbeda. Alih-alih mengandalkan penampakan hantu, film india satu ini menawarkan sesuatu yang lebih dekat dengan ketakutan psikologis.
Shaitaan membangun teror itu melalui Vanraj Kashyap (R. Madhavan) yang mendatangi keluarga Kabir (Ajay Devgan) dengan senyuman namun perlahan menunjukan niat yang sebenarnya. Dengan kemampuan supranaturalnya, ia mampu mengendalikan Janvi (Janki Bodiwala), putri Kabir, hingga menjadikan gadis itu alat untuk meneror keluarganya sendiri.
Di sinilah film ini memiliki modal yang menarik. Ancaman utamanya datang bukan sosok jahat yang tak kasat mata, melainkan dari makhluk yang serupa dengan kita. Hanya saja, kita tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ada manusia yang bisa melakukan hal-hal “gila” dengan tanpa perasaan sama sekali.
Menariknya, Shaitaan bukanlah cerita yang sepenuhnya baru. Film ini merupakan remake dari Vash (2023), film Gujarati yang jalan ceritanya justru saya ketahui lebih dulu melalui sebuah kanal YouTube. Anehnya, meski hanya bermodalkan rangkuman cerita, sosok antagonis dalam Vash terasa lebih jahat di kepala saya dibandingkan Vanraj yang diperankan R. Madhavan.
Tentu, membandingkan dua film ketika salah satunya hanya saya kenal lewat rangkuman cerita bukanlah tindakan yang sepenuhnya adil.
Namun, justru di situlah letak kegelisahan saya terhadap Shaitaan. Sebab, jika premisnya saja sudah menawarkan teror psikologis yang menarik, mengapa sosok yang menjadi sumber teror tersebut belum terasa semengerikan yang saya bayangkan?
Vanraj sebenarnya bukan antagonis yang buruk. R. Madhavan mampu membawakan karakter ini dengan ketenangan yang justru terasa mengintimidasi. Ia tidak harus terus-menerus berteriak atau menunjukkan kemarahan untuk membuat keluarga Kabir berada dalam tekanan. Ada sesuatu yang mengganggu dari caranya bersikap, seolah-olah segala sesuatu yang terjadi memang sudah berada dalam genggamannya.
Masalahnya, menjadi jahat dan terasa mengerikan adalah dua perkara berbeda.
Selain itu, pada beberapa bagian, Shaitaan terasa lebih sibuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan Vanraj daripada menggali lebih jauh dampak keberadaannya terhadap keluarga Kabir. Janhvi melakukan sesuatu di luar kendalinya, keluarganya berusaha menghentikan, lalu muncul lagi tindakan yang membuat situasi semakin genting. Ketegangan memang terjaga, tetapi pola semacam ini berisiko terasa berulang ketika ancaman yang muncul tidak memberikan dimensi baru terhadap konflik.
Pada akhirnya, film ini punya premis yang menarik, tetapi belum sepenuhnya berhasil mengubahnya menjadi teror psikologis yang membekas. R. Madhavan tampil cukup meyakinkan, sementara konflik yang melibatkan keluarga Kabir menawarkan ketakutan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia daripada sekadar penampakan hantu. Hanya saja, potensi itu belum selalu diimbangi dengan pengembangan teror yang membuat saya benar-benar merasa tidak berdaya bersama para karakternya.
Bagi teman-teman yang menyukai horor supranatural dengan konflik keluarga, film ini masih layak dicoba. Namun, jika berharap pada teror psikologis yang terus menghantui bahkan setelah film berakhir, mungkin pengalaman menontonnya tidak akan semengerikan yang dibayangkan.