
Walau tak lengkap, orang tetap paham maksudnya. Orang yang saya maksud dalam artian dewasa, sedangkan anak-anak mungkin akan bertanya-tanya. Saya sedang menunggu giliran cukur di Pangkas Rambut (M)adura.
Ya, selain Garut, profesi tukang cukur juga akrab dengan orang Madura. Ada beberapa tempat cukur rambut biasa di daerah saya, namun yang mendominasi adalah yang dikelola orang Madura. Biasa yang saya maksud yang tarifnya lebih murah dibanding salon atau barbershop.
Omong-omong soal pangkas rambut Madura, konon ada stigma yang melekat bahwa tempat cukur tersebut hanya bisa satu model potongan saja, mullet. Mau kita menjelaskan detil gaya yang kita inginkan, hasilnya akan menyerupai mullet. Apalagi bagi yang datang dengan pasrah, sudah otomatis itu.
Ditambah lagi tidak sedikit pemuda Madura mencukur rambutnya dengan gaya tersebut, membuat rumor itu terasa semakin benar adanya. Saya sendiri sih bisa dibilang agak percaya, walau bukan dalam artian hanya satu model saja, tetapi kebisaan si tukang cukur yang cukup terbatas.
Kebiasaan saya di tempat pangkas itu membuat bingung kang cukurnya. Saya bukan seorang hair enthusiast, tak paham berbagai macam gaya rambut. Jadi saya hanya datang berbekal gambaran sekilas di kepala dipadukan dengan penjelasan alakadarnya. Alhasil kang cukurnya bingung, saya juga stres liat ekspresinya.
Sekali lagi, saya tak paham model rambut, saya juga tak tahu jenis potongan mana yang cocok untuk tipe rambut dan bentuk kepala saya. Saya beberapa kali melihat video hairstylist memberi saran kepada customer setelah menganalisa jenis rambut dan bentuk kepalanya. Jadi tak jarang, saya bilang “bagusnya gimana pak?” lalu jawabannya, “manut mas,” makin setres.
Bukannya disitu biasanya ada katalog model rambut? Ya ada sih, tapi bukannya tidak mau menggunakannya, masalahnya model rambut yang tersedia hampir tidak ada yang cocok dengan kultur Indonesia. Selain itu, kalaupun ada, model pria yang tampan itu membuat minder duluan, hasilnya tidak akan mirip. Saya juga jarang menjumpai orang menggunakan katalog itu saat sedang antri.
Opsi lain adalah menunjukan contoh model yang diinginkan lewat ponsel. Tapi lagi-lagi potensi kekecewaan itu ada. Banyak hal pada gambar yang bisa meleset jika diterapkan langsung. Bisa jadi bentuk kepalanya tidak cocok dengan model yang diminta, bisa juga model tersebut memerlukan penataan yang tidak mudah setelah pangkas sehingga berpotensi tidak mirip. Terakhir tentu saja krisis kepercayaan terhadap kang cukur.
Pada akhirnya memang datang ke tempat cukur biasa bersamaan dengan worst case yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sisakan ruang untuk kecewa. Entah itu memesan model yang kita mau tapi hasilnya tidak mirip, atau panjang pendeknya berbeda tiap sisinya. Ono rego ono rupo.