
Beberapa waktu terakhir setiap keluar masuk rumah lewat pintu samping, ada satu hal yang selalu ada di sana, koin lima ratus rupiah berwarna perak.
Ia selalu berada di sekitar area sana, kadang berada di lantai dekat dinding, sesekali di belakang pintu. Hingga kini akhirnya dia terbaring di kusen bawah jendela.
Setiap melihatnya sambil berjalan saya sembari berfikir, “kenapa tidak ada yang mengambil?”
Kalau mungkin ada yang mengambil, tapi untuk dipindah saja, entah ketika sedang menyapu lantai.
Dan yang membuat saya lebih bingung lagi adalah kenapa tidak ada keinginan dalam diri saya sendiri untuk mengambilnya.
Melamun…
Saat ini saya melamun sejenak.
Saya pun teringat sekilas pengalaman beberapa tahun yang lalu.
Dulu setelah lulus SMA saya mengikuti sekolah pelatihan dan di sana saya tinggal asrama.
Karena tempat pelatihan saya salah satu misinya adalah mencetak lulusannya memiliki jiwa entrepreneurship, jadi kita tidak diizinkan menerima transferan dari rumah.
Dan uang saku di awal masuk pun diambil untuk diamankan dan diberikan kembali saat sudah selesai masa pelatihan.
Untuk urusan makan sudah ada disediakan, sementara untuk kebutuhan sabun mandi, ingin jajan kita dituntut kreatif.
Dari situ kita memiliki berbagai macam profesi sampingan, ada yang jadi guru les, antar air galon, dan yang paling banyak jualan.
Jual apa saja yang bisa dijual, yang penting halal. Saya sendiri termasuk yang jualan dan yang saya jual adalah kerupuk.
Kalau buat sendiri nggak memungkinkan karena fokus waktunya buat belajar akademik. Jadi solusinya mengambil yang sudah siap jual dari produsen.
Sistemnya setoran, dari produsen kena berapa dan kita yang tentukan sendiri harga jualnya.
Koin di Laci
Waktu jualannya hari libur, sabtu dan ahad. Keliling membawa bambu di pundak dengan sekumpulan kerupuk tergantung di kedua sisi.
Berangkat pagi menyusuri jalan, masuk ke perumahan, kemanapun itu yang dirasa ada orang mau beli.
Kadang baru beberapa langkah keluar sudah ada yang manggil untuk beli. Tapi tidak jarang membutuhkan kaki menempuh jarak kiloan meter.
Namanya jual beli, tawar-menawar itu hal yang wajar tak terkecuali untuk kerupuk dagangan saya. Dan tidak jarang keuntungan yang masuk kantong saya berupa koin 500 rupiah.
(koin yang sama dengan yang selalu saya lihat lantai)
Tapi.. rasanya beda. Waktu itu sembari lanjut berjalan menawarkan dengan dagangan, saya sembari memastikan koin itu tetap di berada kantong, tidak jatuh apalagi hilang.
Hingga begitu pulang ia saya letakan di laci lemari di tempat paling dalam dan aman.
Diujung Lamunan
Itu koin dengan angka yang sama, bentuk yang sama, dan warna yang sama.
Kenapa koin yang waktu itu saya simpan di laci paling dalam, sementara koin di kusen pintu sekarang tergeletak begitu saja?
Akhirnya…
Saya selesai melamun dan berjalan ke area pintu samping rumah untuk mengambil koin di kusen jendela dan memindahkannya ke laci.
Seperti waktu itu.