Seorang teman bertanya, “Lip, jaremu KDMP iki bertahan gak?”
“Menurutmu?” saya balik tanya.
“Gak sampe setahun kayake”
“Waduh,, pendek banget, kataku sih nek cuma bertahan minimal sampe 2029” jawab saya.
Percakapan di atas terjadi sore hari sekitar sebulan lalu. Dan barusan saya baru membaca artikel kategori In-Depth dengan sub kategori Telaah di situs katadata.co.id dengan judul:

Bahasan soal wacana pemerintah untuk membatasi – bahkan menyetop – pembangunan gerai baru minimarket modern macam Indomart & Alfamart. Tujuannya? Ya tentu untuk memuliakan salah satu program unggulan, KDMP. Memuliakan? Saya meminjam kata Pak Menteri Yandri Susanto di akun instagram resminya yang terkutip dalam artikel.
Penulis menyoroti wacana ini salah kaprah karena khawatir malah akan melemahkan kemampuan berdaya saing dan menggeser fokus dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu kesiapan Kopdes itu sendiri.
Yang Saya Lihat di KDMP
Bagi saya ini menarik, karena KDMP di lokasi saya menunjukan kekhawatiran serupa. sejak dibuka akhir bulan Mei kemarin sampai saya menulis ini, belum ada yang gimana-gimana sepengamatan saya. Setiap melihat pemandangan Kopdes, tidak ada motor terparkir, hanya barang di rak dan petugas yang duduk – menunggu customer.
Selain itu, tidak ada gimana-gimana soal sosialisasi, promosi, dan sebangsanya. Karena saya pikir, jika Pak Menteri menganggap minimarket modern itu sebagai kompetitor, kenapa tidak meniru caranya untuk promosi di awal-awal kehadirannya?
Saya masih ingat dulu pegawai Indomaret berkeliling desa membagikan brosur bareng Si Domar, kadang ada balon gratisnya juga. Jadi kita bisa tahu apa saja isi gerai tersebut. “Kan sekarang ada Medsos!” Ya belum tentu juga efektif, media penyebaran informasi masyarakat desa itu yang sat-set masih word of mouth.
Itu baru satu soal, belum soal mendasar lainnya seperti yang dikatakan Sekretaris Kopdes Merah Putih Pasir Nangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Nurkhayat Santosa kepada Katadata, menurutnya keberadaan minimarket modern di sekitar lokasi Kopdes tidak menjadi masalah sepanjang koperasi bisa menjual harga kebutuhan masyarakat dengan harga yang lebih rendah. Hal tersebut memunculkan tentu mengarah ke persoalan dasar lainnya, yaitu rantai pasok (supply chain).
Bahkan, ada KDMP yang wilayah sekitarnya tidak ada minimarket tetap memiliki tantangan tersendiri. Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Desa Merah Putih Desa Kedungbanteng, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Suharsono mengatakan, “Jujur ini terkesan grusa grusu. Alfamart atau Indomaret saja kalau mau bikin gerai baru perlu proses yang panjang, kemudian ada riset dan analis tempat itu dihitung dengan matang. Tapi Kopdes ini asal ada tanah (langsung beroperasi),”
Menurut saya sih meski saat ini KDMP sudah ada sebagian yang mulai beroperasi, namun belum bisa maksimal. Toh, calon managernya masih menjalani retreat ala Kabinet Merah Putih.
Sepakat Nggak dengan Wacana Pak Menteri?
Saya sih terserah saja, daripada ngasih kritik terus dikasih nyenyenye. Tapi kalau harapan sih boleh dong ya.
Teman saya di atas tadi juga bercerita, waktu di warkop dia terdengar orang mengeluh, “aku takok nggone barang iku gastur karo jawabe karyawane ora enak.” Intinya, pelayanan di KDMP kurang bagus menurutnya. Entah kejadian benar atau tidak, yang pasti soal pelayanan memang tidak boleh dianggap soal remeh dalam berbisnis.
Saya pribadi sebagai konsumen tentu berharap mendapatkan harga yang bagus dan pelayanan yang baik, dan salah satu yang bisa memberikan itu adalah persaingan yang fair.
Karena kalau banyak pilihan, konsumen tentu akan diuntungkan juga. Kayak Gojek dan Grab, saling bersaing harga, berlomba-lomba kasih promo, saling ngasih pelayanan terbaik, siapa yang untung? Ya konsumen.
Kalau cuma satu pilihan yang ada, pasang harga bisa di sesukanya, pelayanan bisa begitu-begitu saja – bahkan sak penake dewe, karena cuma dia yang ada, siapa yang rugi? Ya konsumen.
Nah, kalau kalian sepakat atau sepakat dengan wacana Pak Menteri?
Sumber:
- https://katadata.co.id/indepth/telaah/6a2a517720140/wacana-pembatasan-minimarket-modern-salah-kaprah-penguatan-kopdes-merah-putih#