Rokok Om Jin Rasa Apel, Emang Terasa?

Djarum 76 Apel Royal
Bekas bungkus sigaret Djarum 76 Apel Royal yang ditinggal pemiliknya.

Ada banyak macam perisa dalam makanan salah satunya buah. Namun, dalam rokok apakah benar-benar tegas terasa?

Sudah lama saya tidak mencicipi sigaret, terakhir kali sekitar sewindu lalu. Waktu itu masih bocah SMA yang tentu hampir tidak pernah beli sebungkus, hanya bisa ngecer di warkop sambil nongkrong. Jadi merknya pun itu-itu saja tergantung si empunya warung. Dan tidak ada tulisan apel, mangga, atau durian di pembungkusnya.

Sepengalaman saya dulu tidak menjumpai rokok yang menawarkan perisa buah. Adanya sih mentol, senyawa dari tanaman mint yang memberi rasa dingin di mulut ketika dihisap.

Jadi melihat bungkus rokok orang yang sengaja ditinggal ini ada tulisan Apel Royal membuat saya penasaran. Apakah asap itu memberi rasa seperti kita makan buah apel ketika masuk ke mulut? Atau apakah yang dimaksud itu asap dengan aroma apel? Atau lebih abstrak lagi memberikan sensasi buah apel?

Untuk Royal sendiri saya simpulkan itu bukan mengarah ke salah satu jenis apel, melainkan semacam kata untuk memberi kesan premium.

Setelah baca-baca ulasan dari salah satu user jagat maya X (biasa saya panggil Twitter) sih saya menangkap unsur apel dari rokok keluaran jenama yang terkenal akan om jin-nya ini tercermin dari aromanya ketika bungkusnya dibuka. Katanya juga ada rasa apelnya tipis ketika dihisap dan ada tambahan mentol.

Tapi kalau dipikir-pikir, embel-embel perisa buah ini juga ada di bisnis perkopian dunia. Saya menjumpai banyak jenama produk biji kopi (atau biasanya dipanggil beans) yang menawarkan rasa anggur, jeruk, jambu, atau mungkin ada juga kelengkeng.

Meski tak seaneh rokok tadi, bagi saya ini tetap mengherankan. Bagaimana dalam biji kopi utuh ada berbagai macam rasa. Usut punya usut sih katanya di semprot sirup perasa dan dibiarkan meresap.

Saya menambahkan “katanya” karena saya sadar saya tidak benar-benar mengerti. Sebab sampai sekarang saya juga bukan penikmat kopi.

Kalau diberi dua cangkir lalu diminta menebak mana yang punya rasa apel hijau dan mana yang ada rasa jeruk, kemungkinan besar saya akan menjawab, “dua-duanya rasa kopi”.

Tapi saya jadi berpikir, mungkin selama ini saya keliru memahami kata rasa.

Saya mengira rasa itu harus tegas. Padahal mungkin tidak selalu begitu. Mungkin ada rasa yang bentuknya bukan rasa.

Mungkin yang dicari bukan sensasi di lidah, tapi kesan yang tertinggal beberapa detik setelahnya. Mungkin aromanya. Mungkin ingatan. Mungkin suasananya.

Lalu kalau penasaran rasa apelnya kenapa tidak coba saja? Tapi bukannya tidak semua rasa penasaran perlu dituruti, kan?

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top