Ni Apa?

Ni Apa

Beberapa hari terakhir, warung ibu saya mulai sepi lebih cepat. Lewat jam delapan malam, biasanya sudah hampir tidak ada pembeli. Jalan raya juga ikut tenang – sesekali hanya ada suara kendaraan lewat sebentar, lalu hilang lagi.

Seperti rata-rata orang, waktu-waktu kosong seperti itu sudah tentu saya isi dengan menggeser layar gadget dari satu video ke video yang lain, atau update berita yang bikin geram sampai cekikikan.

Tapi lama-lama capek juga kalau lihat layar terus-terusan. Akhirnya, sekitar tiga hari terakhir saya mulai bawa buku ke warung. Bukan karena tiba-tiba jadi rajin membaca atau ingin terlihat produktif. Jujur saja, buku itu lebih seperti pelarian mata dari layar gadget.

Di warung, saya hampir setiap hari bertemu sepupu saya. Anak dari adik ibu saya. Perempuan, usianya sekitar dua tahunan. Rumahnya tepat di belakang warung ibu. Dari kecil memang sudah sering bersama saya. Dan seperti kebanyakan anak kecil seusianya, dia sedang ada di fase paling penasaran terhadap dunia.

Setiap melihat hal baru, pasti pertanyaannya itu lagi:

“Ni apa?”

“Apa ni?”

“Ni apa?”

Semua benda seolah harus punya nama. Semua hal harus dikenali.

Waktu itu, dia melihat buku yang saya pegang. Saya jawab singkat, “Buku.”

Lalu saya coba memandunya mengucapkan pelan-pelan.

“Bu… ku…”

Entah dia benar-benar paham atau tidak saat itu. Saya juga tidak terlalu memikirkan.

Sampai tadi malam.

Saya duduk bersamanya di kursi depan samping warung, menunggu pembeli sambil menikmati angin dari kendaraan yang lewat.

Iseng saja, saya bilang ke dia:

“Minta tolong ambilin buku mas di belakang.”

Lalu dia turun dari kursi, jalan ke belakang, dan beberapa saat kemudian kembali sambil membawa buku yang saya maksud.

Di situ saya langsung agak terkejut. Bukan terkejut yang berlebihan, tapi semacam senyum kecil yang muncul begitu saja.

“Oh, ternyata dia tahu.” ucap saya dalam hati.

Lucunya, saya merasa baru tiga hari lalu memperkenalkan benda itu lewat kata “buku”. Memang tentu saja itu bukan pertama kalinya dia melihat buku dalam hidupnya. Kejadian tersebut mungkin menjadi hal yang sangat normal dalam tumbuh kembang anak. Bahkan mungkin biasa saja bagi banyak orang.

Tapi entah kenapa saya senang.

Mungkin karena saya melihat proses kecil itu terjadi tepat di depan mata. Dari yang awalnya hanya mendengar sebuah kata, lalu pelan-pelan menghubungkannya dengan bentuk, benda, dan ingatan. Sesederhana itu, tapi rasanya senang sekali.

Mungkin seperti itulah perasaan para orang tua ketika melihat anak kecil mulai mengenali dunia sedikit demi sedikit. Dari kata-kata sederhana. Dari benda-benda kecil di rumah. Dari percakapan yang mungkin bagi orang dewasa terasa biasa saja – bahkan sepele.

Dan malam itu, di warung yang sepi, ditemani suara kendaraan lewat sesekali, saya merasa ikut melihat seseorang sedang bertumbuh.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top