7 Langkah Membangun Buyer Persona Website yang Akurat

Membangun Buyer Persona Website

Dalam strategi SEO dan content marketing, mendatangkan trafik ke website hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah membuat pengunjung tersebut betah, membaca konten teman-teman, dan akhirnya melakukan pembelian.

Seringkali, konten kita gagal menghasilkan konversi bukan karena tulisannya, tapi karena target pembacanya tidak jelas. Untuk itulah sebelum menulis, kita perlu menentukan siapa target pembacanya.

Secara sederhana, buyer persona adalah profil pelanggan ideal yang disusun berdasarkan data. Dengan memiliki persona yang jelas, teman-teman bisa membuat konten yang spesifik dan relevan untuk mereka.

Apalagi sekarang pelanggan semakin kritis. Laporan dari Salesforce menunjukkan bahwa 73% pelanggan berharap perusahaan memahami kebutuhan unik mereka. Jika konten teman-teman terasa tidak relate, mereka akan cepat berpindah.

Lalu, bagaimana cara membuat profil ini agar strategi konten marketing teman-teman sukses? Mari kita bahas langkah-langkah praktisnya.

1. Manfaatkan Data Perilaku dari Google Analytics 4 (GA4)

Langkah pertama yang harus teman-teman lakukan adalah berhenti menebak-nebak. Seringkali kita berasumsi pembaca kita adalah anak muda, padahal data menunjukkan sebaliknya.

Untuk mendapatkan data yang akurat, teman-teman bisa menggunakan tools gratis seperti Google Analytics. Di sini, kita bisa melihat siapa sebenarnya yang berkunjung ke website kita.

Ada beberapa laporan data yang wajib teman-teman cek, diantaranya:

  • Demografi Pengguna: Lihat rentang usia, jenis kelamin, dan lokasi geografis pengunjung. Data ini membantu teman-teman menentukan gaya bahasa yang pas. Apakah harus santai ala anak muda atau formal untuk kalangan profesional?
  • Teknologi: Cek apakah mereka lebih banyak mengakses website lewat mobile atau desktop. Jika mayoritas pengguna memakai HP, maka format konten teman-teman harus dibuat dalam paragraf pendek agar mudah dibaca di layar kecil.
  • Minat dan Halaman Populer: Perhatikan halaman atau artikel mana yang paling lama mereka baca. Ini menunjukkan topik apa yang paling mereka butuhkan saat ini.

Data-data tersebut bisa menjadi fondasi atau kerangka dasar persona teman-teman.

Sedangkan untuk teman-teman yang baru memulai, bisa berangkat dari target market produk/layanan yang ditawarkan.

2. Kumpulkan Zero-Party Data Melalui Interaksi Langsung

Setelah mendapatkan data angka dari Google Analytics, langkah selanjutnya adalah mencari tahu hal yang membuat mereka membaca konten kita.

Karena angka di dashboard bisa hanya memberi tahu jumlah yang datang, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa mereka datang.

Di dunia marketing saat ini, ada istilah Zero-Party Data. Ini adalah data yang diberikan pelanggan secara sukarela kepada kita.

Data jenis ini sangat berharga karena pelacakan data otomatis (cookies) semakin dibatasi oleh aturan privasi.

Nah, bagaimana cara mendapatkannya? Teman-teman bisa melakukan hal sederhana seperti:

  • Membuat polling singkat di Instagram Story.
  • Menyisipkan survei satu pertanyaan di halaman website.
  • Mengirim email ke pelanggan setia untuk wawancara singkat.

Saat bertanya, hindari pertanyaan standar seperti usia atau alamat, karena itu sudah ada di data analitik. Fokuslah bertanya tentang masalah mereka.

Misalnya, “apa tantangan terbesar teman-teman dalam mengelola website saat ini?” atau “topik apa yang paling ingin dipelajari bulan depan?”

Laporan dari HubSpot menyoroti bahwa pemasar saat ini makin memprioritaskan data langsung seperti ini untuk membangun kepercayaan dan relevansi konten yang lebih baik.

3. Analisis Psikografis: Pain Points dan Desires

Jika data demografi di poin sebelumnya adalah ibarat “fisik” dari persona teman-teman, maka psikografis adalah “jiwanya”. Di tahap inilah kita menggali emosi dan motivasi mereka.

Analisis ini terbagi menjadi dua hal utama, yaitu pain points dan desires.

Pertama, pain points atau masalah, adalah hal apa yang membuat audiens teman-teman frustrasi atau stres? Misalnya, jika target audiens teman-teman adalah pemilik bisnis kecil, masalah utama mereka mungkin bukan kurang fitur website, melainkan tidak punya waktu untuk mengurus hal teknis.

Kedua, desires atau keinginan, merupakan tujuan akhir atau impian mereka? Melanjutkan contoh di atas, keinginan mereka mungkin adalah sistem yang berjalan otomatis agar bisa fokus jualan, bukan sekadar website yang canggih.

Dengan memahami dua hal ini, konten artikel yang teman-teman buat akan jauh lebih tajam. Judul artikel tidak lagi sekadar informatif, tapi memberikan solusi atas kegelisahan mereka.

Baca juga: Sales Funnel Content Marketing: Strategi Mengubah Awareness Menjadi Conversion

4. Gunakan AI untuk Menyusun Profil Persona

Setelah mengumpulkan data dari poin-poin sebelumnya, step selanjutnya adalah menyatukannya menjadi sebuah profil yang rapi. Namun proses ini seringkali memakan waktu dan membingungkan.

Tapi tenang, sekarang kita bisa memanfaatkan teknologi AI seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini untuk membantu tugas tersebut.

Caranya cukup sederhana. Teman-teman tinggal menyalin data mentah dari Google Analytics dan hasil survei tadi, lalu berikan perintah kepada AI.

Contoh perintah atau prompt-nya bisa seperti ini, “tolong buatkan profil buyer persona yang lengkap untuk bisnis [jenis bisnis teman-teman] berdasarkan data berikut ini…”

AI akan membantu teman-teman melihat pola perilaku yang mungkin terlewatkan oleh mata manusia dan merangkumnya menjadi cerita profil yang mudah dipahami. Ini membuat proses kerja teman-teman jauh lebih cepat dan efisien.

Bahkan, prediksi dari Forrester menyebutkan bahwa penggunaan Generative AI dalam analisis data akan menjadi kunci utama efisiensi tim marketing di tahun 2025.

5. Berikan Identitas Visual dan Nama pada Persona (Opsional)

Untuk memudahkan proses pembuatan konten nantinya, teman-teman bisa memberikan identitas pada persona yang sudah disusun. Berikan mereka nama panggilan yang spesifik dan cari foto ilustrasi yang mewakili karakter mereka.

Sebagai contoh, alih-alih menyebut target audiens sebagai “Pria usia 25-30 tahun yang ingin belajar bisnis”, teman-teman bisa memberinya nama “Rico, si Pengusaha Pemula”.

Tujuannya dari pemberian identitas ini adalah agar terasa lebih hidup dan membantu kita untuk “berkomunikasi” dengannya.

Saat teman-teman atau tim penulis sedang membuat artikel blog, bayangkan kalian sedang berbicara langsung dengan Rico. Dengan begitu, gaya bahasa yang keluar akan terasa lebih natural, personal, dan tidak kaku.

Cara ini sangat ampuh untuk menjaga konsistensi nada bicara (tone of voice) di seluruh konten website teman-teman.

6. Petakan Persona ke dalam Content Journey Map

Setelah teman-teman memiliki karakter persona yang jelas seperti “Rico” tadi, langkah selanjutnya adalah menentukan konten apa yang dia butuhkan di waktu yang tepat.

Karena jarang sekali ada orang yang baru pertama kali mampir ke website langsung membeli produk saat itu juga.

Inilah fungsinya Content Journey Map atau peta perjalanan konten. Teman-teman perlu menyesuaikan topik artikel dengan tahapan yang sedang dilalui si persona.

Secara umum ada empat  fase penting:

  • Awareness: Tahap pertama adalah fase dimana audiens mulai mencari penyebab atau penjelasan atas masalah yang mereka hadapi.
  • Consideration: Tahap dimana audiens mulai membandingkan solusi atas permasalahan mereka.
  • Decision: Setelah yakin mendapatkan solusi yang tepat, audiens siap untuk mengambil keputusan.
  • Action: Audiens melakukan pembelian produk/jasa.

Dengan memetakan konten seperti ini, teman-teman bisa membuat konten yang lebih terarah sesuai dengan posisi audiens berada sekarang.

Strategi tersebut terbukti efektif, pemasar yang menyelaraskan konten mereka dengan perjalanan pembeli melaporkan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.

7. Validasi dan Revisi Secara Berkala

Satu kesalahan besar yang sering dilakukan banyak pemasar adalah menganggap pekerjaan selesai setelah persona jadi.

Padahal, perilaku konsumen berubah sangat cepat, apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini.

Apa yang relevan bagi audiens kita di tahun 2025, bisa jadi sudah basi di tahun 2026.

Oleh karena itu, teman-teman perlu melakukan validasi ulang. Jadikan ini agenda rutin, misalnya setiap 6 bulan sekali atau setiap kali teman-teman meluncurkan produk baru.

Tanda paling mudah untuk tahu kapan persona perlu diperbarui adalah melihat data website. Jika trafik masih tinggi tapi orang yang membeli atau menghubungi semakin sedikit, itu tandanya profil audiens teman-teman sudah bergeser.

Jadi, jangan ragu untuk merevisi data tersebut agar strategi marketing teman-teman tetap tajam dan menghasilkan.

Kesimpulan

Jadi itulah panduan yang bisa teman-teman aplikasikan untuk membangun buyer persona dari strategi content marketing.

Tanpa persona yang jelas, teman-teman seperti memanah dengan mata tertutup mungkin sesekali kena sasaran karena keberuntungan, tapi sulit untuk diulang terus-menerus.

Dengan data yang akurat dari GA4, sentuhan personal, dan bantuan AI, teman-teman kini bisa membidik target audiens dengan jauh lebih presisi.

Sekarang giliran teman-teman. Jangan biarkan data ini hanya menjadi teori. Mulailah buka data analitik website hari ini dan coba buat satu profil persona pertama teman-teman.

Baca juga: Apa Itu Repurposing Content? Panduan Lengkap & Cara Melakukannya

Referensi:

  • https://www.salesforce.com/resources/research-reports/state-of-the-connected-customer/
  • https://www.hubspot.com/state-of-marketing
  • https://www.salesforce.com/marketing/marketing-statistics/
  • https://contentmarketinginstitute.com/research/b2b-research

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top