
Teman-teman mungkin pernah mengalami kondisi ini dimana website ramai pengunjung, tapi penjualan atau pesanan yang masuk sedikit sekali.
Biasanya, ini terjadi karena pengunjung bingung harus melakukan apa setelah membaca konten. Mereka butuh arahan yang jelas agar tidak langsung pergi begitu saja. Untuk itulah kita perlu CTA atau Call to Action.
Nah, mari kita bahas apa itu CTA dan cara membuatnya agar pengunjung website teman-teman mau bertindak, seperti membeli produk atau menghubungi kontak.
Penasaran? Simak ulasannya berikut ini!
Apa Itu CTA?
Secara sederhana, CTA atau Call to Action adalah instruksi atau ajakan berupa teks, gambar, atau tombol yang dirancang khusus untuk mendorong pengunjung melakukan tindakan tertentu di website.
Teman-teman bisa menganggap CTA sebagai rambu penunjuk jalan. Tanpa adanya elemen ini, pengunjung hanya akan membaca konten lalu keluar karena tidak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.
Bentuk CTA bisa bermacam-macam, tetapi tujuannya selalu satu, mengubah pengunjung pasif menjadi pelanggan aktif.
Contoh paling umum yang sering kita temui adalah tombol bertuliskan Beli Sekarang, Daftar Gratis, atau Hubungi Kami.
Mengapa CTA Sangat Penting dalam Digital Marketing?
CTA memiliki peran yang cukup vital dalam digital marketing, karena ia memberikan kejelasan. Pengunjung website biasanya ingin solusi cepat. Jika mereka harus menebak-nebak cara membeli produk atau cara menghubungi teman-teman, mereka akan pindah ke kompetitor.
Selain itu, CTA berfungsi untuk meningkatkan konversi penjualan secara signifikan. Menempatkan ajakan yang tepat di posisi yang strategis terbukti memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada membiarkan pembaca mencari sendiri tombol pembelian.
Data juga membuktikan hal ini. Riset dari HubSpot menunjukkan bahwa penggunaan anchor text CTA (tautan berbentuk teks di dalam paragraf) mampu meningkatkan rasio konversi artikel blog sebesar 121% dibandingkan jika hanya mengandalkan tombol banner di bagian akhir artikel.
Jenis-Jenis CTA Berdasarkan Tujuannya
CTA tidak melulu soal tombol “Beli Sekarang”. Teman-teman perlu menyesuaikan jenis tombol dengan tujuan utama dari halaman website tersebut.
Berikut adalah 6 jenis CTA yang paling sering digunakan dalam strategi digital marketing:
1. Pengumpul Data Prospek (Lead Generation)
Tujuannya adalah mengubah pengunjung biasa menjadi calon pelanggan potensial. Karena belum tentu mereka mau langsung membeli, teman-teman bisa menawarkan sesuatu yang gratis sebagai penukar alamat email atau nomor WhatsApp mereka.
Contoh: “Download Panduan Gratis”, “Dapatkan Kupon Diskon”, atau “Klaim Trial 7 Hari”.
2. Pengisian Formulir (Form Submission)
Selanjutnya adalah jenis CTA untuk pengisian formulir. CTA ini mengajak pengunjung untuk mendaftar layanan, membuat akun, atau mengirimkan data diri agar teman-teman bisa menghubungi mereka kembali.
Contoh: “Daftar Sekarang”, “Buat Akun Baru”, atau “Ikuti Kursus”.
3. Baca Selengkapnya (Read More)
CTA ini sangat penting untuk blog atau portal berita. Tujuannya agar pengunjung betah berlama-lama di website dan membaca artikel lain, sehingga mereka tidak langsung keluar (bounce) setelah membaca satu judul.
Contoh: “Baca selengkapnya di sini” atau “Artikel terkait: Cara Memulai Bisnis Tanpa Modal”.
4. Berbagi ke Media Sosial (Social Sharing)
Selanjutnya CTA yang mengajak pembaca untuk membagikan artikel atau produk teman-teman ke sosial media mereka. Ini adalah cara termudah dan termurah untuk mendapatkan promosi gratis dari pengguna.
Contoh: “Bagikan ke Facebook”, “Share ke WhatsApp”, atau “Tweet hal ini”.
5. Melihat Produk (Product Discovery)
Gunakan jenis ini jika teman-teman ingin pengunjung melihat-lihat fitur atau katalog produk terlebih dahulu tanpa merasa dipaksa membeli saat itu juga. Ini membangun rasa penasaran mereka.
Contoh: “Lihat Koleksi Terbaru”, “Cek Fitur Lengkap”, atau “Lihat Demo Produk”.
6. Promosi Acara (Event Promotion)
Terakhir ada jenis CTA ini digunakan khusus jika teman-teman sedang mengadakan acara, baik offline maupun online (webinar), dan ingin mengundang audiens untuk hadir.
Contoh: “Amankan Tiketmu”, “Booking Kursi”, atau “Daftar Webinar”.
Elemen Anatomi CTA yang Efektif
Membuat tombol CTA bukan sekadar membuat tombol. Ada sains dan psikologi di baliknya. Berdasarkan riset, berikut adalah tiga elemen kunci yang wajib teman-teman perhatikan:
1. Desain dan Warna
Banyak yang berdebat warna apa yang terbaik untuk tombol. Apakah merah? Hijau? Atau oranye? Jawabannya bukan pada warna spesifik, melainkan kontras.
Tombol CTA harus terlihat mencolok dan berbeda dari warna latar belakang (background) website teman-teman.
Sebuah studi kasus terkenal dari HubSpot pernah menguji tombol warna hijau melawan merah. Hasilnya, tombol merah mengalahkan hijau dengan kenaikan konversi sebesar 21%.
Mereka menemukan di halaman tersebut, warna merah lebih kontras dan lebih mudah ditangkap mata dibandingkan hijau yang membaur dengan warna dominan website.
2. Copywriting
Hindari kata-kata pasif. Gunakan kata kerja yang mengajak bertindak. Selain itu, mengubah sudut pandang juga sangat berpengaruh.
Riset dari Michael Aagaard dikutip dari unbounce.com menemukan fakta menarik. Mengubah teks tombol dari “Start your free 30 day trial” (Mulai trial 30 hari Anda) menjadi “Start my free 30 day trial” (Mulai trial 30 hari saya) meningkatkan angka klik hingga 90%.
Penggunaan kata ganti orang pertama “Saya” atau “Ku” membuat pengunjung merasa memiliki kontrol dan kepemilikan atas penawaran tersebut.
3. Penempatan Posisi
Selain warna dan kata-kata, penempatan tombol CTA juga memegang peran yang sangat krusial. Teman-teman harus memastikan tombol tersebut diletakkan di jalur pandang alami pengunjung, bukan disembunyikan di sudut yang sulit dicari.
Mengapa ini penting? Karena rentang perhatian pengguna internet saat ini sangat singkat. Jika mereka tidak segera melihat tombol tindakan dalam hitungan detik, kemungkinan besar mereka akan pergi.
Teman-teman sebaiknya menempatkan CTA di beberapa titik strategis sekaligus. Misalnya, taruh satu tombol di bagian paling atas halaman agar langsung terlihat tanpa perlu menggulir layar (scroll). Ini berguna untuk pengunjung yang ingin solusi cepat.
Kemudian, ulangi penempatan tombol di bagian akhir landing page atau halaman. Pengunjung yang membaca konten sampai habis biasanya memiliki ketertarikan yang tinggi, jadi pastikan tombol “Beli” atau “Daftar” sudah siap menyambut antusiasme mereka di sana.
Baca juga: Memilih Warna Tombol CTA secara Psikologi untuk Meningkatkan Konversi
Contoh Kata-Kata CTA yang Memikat
Sering kali kita kehabisan ide saat harus menulis teks pada tombol. Akhirnya, kita hanya menggunakan kata standar seperti “Kirim” atau “Submit”. Padahal, kata-kata tersebut cenderung membosankan dan kurang menggugah selera.
Agar tombol teman-teman lebih banyak diklik, cobalah gunakan variasi kata kerja yang kuat (power words) sesuai dengan jenis bisnisnya. Berikut adalah daftarnya:
1. Untuk Toko Online
Fokuskan pada urgensi (keterdesakan) dan keuntungan langsung, seperti:
- “Beli Sekarang – Diskon 50% Hari Ini”
- “Klaim Voucher Gratis Ongkir”
- “Masukkan ke Keranjang”
- “Saya Mau Promonya”
2. Untuk Jasa atau Bisnis B2B
Fokuskan pada solusi dan meminimalisir risiko, contohnya:
- “Konsultasi Gratis Sekarang”
- “Jadwalkan Demo Produk”
- “Lihat Portofolio Kami”
- “Hubungi Kami via WhatsApp”
3. Untuk Konten atau Newsletter
Fokuskan pada rasa penasaran dan keeksklusifan, misalnya:
- “Baca Selengkapnya”
- “Gabung Komunitas Eksklusif”
- “Dapatkan Tips Mingguan”
- “Download Materi Gratis”
Personalisasi CTA: Strategi Advanced
Jika teman-teman ingin hasil yang lebih maksimal, cobalah strategi tingkat lanjut ini. Jangan menyamaratakan satu tombol untuk semua pengunjung. Strategi ini sering disebut dengan istilah Smart CTA.
Konsepnya sederhana, teman-teman menampilkan tombol yang berbeda menyesuaikan siapa yang sedang melihat website saat itu.
Sebagai contoh, bayangkan ada pengunjung yang baru pertama kali datang. Tombol yang paling cocok untuk mereka adalah “Pelajari Lebih Lanjut” atau “Daftar Gratis”.
Sebaliknya, jika yang datang adalah pelanggan lama yang sudah pernah membeli, tombol tersebut harus otomatis berubah menjadi “Beli Lagi” atau “Lihat Promo Khusus Member”. Tentu akan terlihat aneh jika pelanggan setia masih disuruh “Daftar Sekarang”, bukan?
Meski terdengar teknis, strategi ini sangat layak dicoba. Seperti data yang sempat kita singgung di awal, CTA yang menyesuaikan profil pengunjung seperti ini kinerjanya 202% lebih baik dibandingkan CTA standar yang dipukul rata.
Kesalahan Umum Saat Membuat CTA
Meskipun terlihat sepele, banyak pemilik website yang tanpa sadar melakukan kesalahan fatal dalam pembuatan tombol ini.
Akibatnya, konversi yang diharapkan malah tidak terjadi. Berikut adalah tiga kesalahan yang paling sering ditemui:
1. Terlalu Banyak Pilihan
Jangan membingungkan pengunjung dengan menaruh terlalu banyak tombol berbeda dalam satu layar. Misalnya, ada tombol “Beli”, “Daftar”, “Lihat Video”, dan “Kontak” secara bersamaan.
Kondisi ini membuat pengunjung bingung harus memilih yang mana, dan akhirnya malah tidak memilih sama sekali. Dalam dunia marketing, fokus adalah kunci.
Sebuah studi tentang pemasaran email menunjukkan bahwa email yang hanya memiliki satu Call to Action tunggal mampu meningkatkan klik sebesar 371% dan penjualan hingga 1617% dibandingkan email yang penuh sesak dengan berbagai tombol.
2. Ukuran Terlalu Kecil
Ingat bahwa sebagian besar pengunjung saat ini membuka website melalui HP. Jika tombol teman-teman terlalu kecil atau terlalu rapat jaraknya, mereka akan kesulitan mengkliknya.
Jadi sebaiknya pastikan tombol berukuran cukup besar agar mudah ditekan dengan jari.
3. Pesan yang Tidak Jelas
Hindari menggunakan kata “Klik di Sini”. Tulisan ini tidak menjelaskan manfaat apa pun. Pengunjung butuh alasan yang kuat. Ganti dengan kalimat yang menjelaskan hasil, seperti “Download Katalog” atau “Ambil Diskon”.
Penutup
Nah, itulah tadi pembahasan seputar CTA, mulai dari definisi, jenis, hingga berbagai contoh yang bisa teman-teman jadikan sebagai referensi.
Dari sini kita tahu bahwa peran CTA sangat penting dalam digital marketing khususnya landing page untuk meningkatkan leads.
Setiap audiens memiliki kriteria masing-masing, jadi silahkan teman-teman melakukan A/B testing untuk menemukan CTA dengan performa terbaik.
Selamat bereksperimen!
Baca juga: 75 Contoh Kata-kata CTA Ampuh untuk TikTok, Instagram, Landing Page
Referensi:
- https://blog.hubspot.com/marketing/personalized-calls-to-action-convert-better-data
- https://blog.hubspot.com/marketing/a-b-testing-experiments-examples
- https://unbounce.com/conversion-rate-optimization/design-call-to-action-buttons/