Review Film Laut Bercerita

Review Film Laut Bercerita

Menonton film ini, saya berulang kali menarik nafas dalam-dalam berharap udara yang masuk bisa mengurangi sesak di dada, namun rasanya tetap sama. Saya teramat ingin menangis saja, berharap bisa membuat lega, tetapi tidak berhasil. Perasaan tersebut bertahan beberapa menit setelah saya melangkah keluar dari pintu bioskop.

Menghidupkan kembali turbulensi politik Indonesia dekade akhir penguasa Orde Baru, film adaptasi novel dari Leila S. Chudori dengan judul yang sama ini langsung menyambut penonton dengan reproduksi era 90-an yang meyakinkan. Tata artistik, pilihan kostum, hingga properti sehari-hari dirancang dengan ketelitian tinggi untuk membingkai lanskap zaman ketika ruang gerak dibatasi ketat dan kecurigaan bersembunyi di balik senyum aparat.

Di atas panggung sejarah kelam tersebut, cerita berputar pada Biru Laut (Reza Rahadian), seorang mahasiswa aktivis bersama Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo), Alex Perazon (Ben Nugroho), Sunu (Dewa Dayana), Daniel (Kevin Julio), serta kawan-kawan lain di kelompok diskusi Winatra, yang hari-harinya diisi dengan perdebatan ideologis, penyusunan buletin bawah tanah, hingga perlawanan melawan ketidakadilan rezim.

Ketika ancaman pembubaran diskusi, teror senyap, dan operasi penculikan mulai mengincar mereka yang dianggap “mengancam” kekuasaan rezim, menyeret Laut dan rekan-rekannya ke dalam pusaran pelarian yang mencekam dan penuh ketidakpastian.

Belum membaca novelnya, membuat saya datang tanpa ekspektasi. Sutradara Yosep Anggi Noen menyampaikan bahwa salah satu misi film ini adalah untuk merawat ingatan. Karena walaupun diadaptasi dari novel fiksi sejarah, ceritanya banyak terinspirasi dari kisah nyata.

Dan terhadap saya, generasi yang belum hadir, Laut Bercerita menambah ingatan baru. Bahwa pembubaran diskusi, pembungkaman suara kritis, hingga diskriminasi keji terhadap eks-tapol yang terpatri di kartu identitas bak duri dalam daging tanpa melalui proses peradilan yang sah itu pernah menjadi bagian dari sejarah kelam perjalanan bangsa ini.

Pada bagian awal penonton diajak mengenal lebih dekat kehidupan Laut dan rekan-rekannya sebagai mahasiswa era 90-an. Potret keseharian pelajar yang mengisi hari-harinya dengan berkumpul, diskusi, percintaan, hingga lika-liku finansial yang mengharuskan mereka pandai berhemat – seperti merayu pemilik warung demi ekstra lauk.

Menjelang babak kedua, atmosfer mulai terasa mencekam ketika aksi mereka di Blangguan terendus aparat. Aksi kucing-kucingan di tengah gelapnya malam tahun itu menjadi titik awal ketegangan yang meremukan rasa aman. Hingga akhir suasana mendadak berubah menjadi teror psikologis yang nyata tatkala langkah kaki asing mulai mendekati tempat persembunyian, kendaraan tak dikenali terparkir di depan gerbang, dan setiap bayangan di balik jendela membawa ketakutan akan ancaman. Di titik inilah denyut nadi penonton ikut dipacu lewat kepanikan senyap serta tatapan penuh curiga pada orang asing.

Meski demikian, tantangan klasik bagi sebuah film adaptasi buku turut membayangi film ini. Dengan durasi dua jam untuk sebuah film, Anggi dan Leila tampak kewalahan merangkum kompleksitas narasi yang begitu padat. Sehingga membuat setiap bagian dalam patahan alur timeline-nya terasa sempit.

Di lini depan pemeran, pilihan untuk mempercayakan karakter Biru Laut kepada Reza Rahadian juga menyisakan catatan tersendiri. Ia tampil terlalu matang untuk ukuran mahasiswa, seolah tak ada usaha dari tim makeup untuk menyamarkan usianya. Namun, belakangan saya ketahui hal itu memang disengaja oleh Anggi untuk menyesuaikan dengan mahasiswa zaman dulu yang mukanya nampak lebih tua dibanding anak sekarang. Ditambah lagi, Reza tetaplah Reza. Ia berhasil menyelamatkan kompleksitas emosi Biru Laut lewat kepiawaian aktingnya. Dimana itu juga menjadi alasan kenapa dia dipilih.

Tak hanya melihat apa yang dialami korban yang diculik, ketukan emosional film ini juga mencapai titik nadir tatkala kamera bergeser menyoroti mereka yang ditinggalkan. Para aktor senior menunjukkan kelasnya tanpa cela, terutama Arswendy Bening Swara dan Christine Hakim yang sukses meremukkan hati penonton lewat penggambaran duka orang tua yang kehilangan anak tanpa kejelasan. Bagaimana piring makan tetap disiapkan setiap hari, pintu belakang rumah dibiarkan terbuka, hingga tatapan kosong penuh kecemasan di hadapan ketidakpastian, berhasil menghadirkan teror psikologis yang nyata.

Perjuangan Asmara Jati (Yunita Siregar), adik Laut, dalam mencari kejelasan keberadaan kakaknya juga menjadi bagian yang tidak kalah mengiris hati. Lewat tatapan keras kepala yang menyimpan kepedihan mendalam, Yunita menghidupkan potret keluarga yang menolak bungkam di tengah gelombang teror dan intimidasi. Ia berdiri sebagai representasi dari mereka yang menolak lupa, merajut potongan-potongan teka-teki yang sengaja disembunyikan oleh penguasa demi menuntut pertanggungjawaban.

Laut Bercerita memang tidak sepenuhnya sempurna sebagai sebuah adaptasi literer, terbentur oleh keterbatasan durasi yang membuat sebagian lapis emosi naratifnya terburu-buru. Namun, di luar segala catatan teknisnya, film ini berhasil menunaikan tugas utamanya dengan sangat terhormat: merawat ingatan kolektif bangsa yang kerap dipaksa lupa. Ia meninggalkan kita dengan sebuah pertanyaan sunyi tapi tajam tentang arti keadilan, serta pengingat bahwa di balik setiap nama yang hilang, ada keluarga yang tak pernah lelah menanti di meja makan sebuah rumah.

Tinggalkan Komentar