
Sebuah film penculikan biasanya menjanjikan sebuah ketegangan. Ada nyawa yang terancam, permintaan tebusan, dan waktu yang terus berjalan. Namun, Animals tidak langsung memanfaatkan semua itu untuk membuat penontonnya ikut panik. Film garapan Ben Affleck ini justru mengambil jalur sunyi yang menguliti tatanan moral manusia ketika dihadapkan persimpangan antara ambisi politik dan rasa kemanusiaan.
Fokusnya tertuju pada Mark Kimball (Ben Affleck), seorang kepala keluarga yang berada di puncak ambisi politiknya sebagai calon wali kota Los Angeles. Di tengah situasi kampanye yang kurang bagus bagi pihaknya, Mark dan istrinya Abigail (Kerry Washington) mendapat telepon dari seseorang yang mengaku menculik anaknya, Denny Kimball (Christopher Woodley), yang membuat keadaan semakin rumit.
Keputusan Affleck untuk untuk memperlambat tempo di babak awal mungkin terasa sedikit menguji kesabaran, terutama bagi penggemar ketegangan film thriller penculikan cepat. Namun, mungkin ia memerlukannya untuk memetakan kehidupan tokoh Mark dengan segala kalkulasi publik yang membungkus kesehariannya. Barulah ketika kabar penculikan mulai mengambil alih cerita, Animals perlahan menemukan daya tariknya.
Ekspresi kepanikan mulai terpancar dan memperlihatkan Mark selain sebagai politisi juga merupakan sosok kepala keluarga. Konflik batin pun Mark pun semakin menjadi saat identitas anak yang diculik terungkap. Dititik inilah yang saya rasa menjadi daya tarik utama Animals. Bagaimana kompas moral sang tokoh utama diuji yang sekaligus menjadikannya metafora pada judul Animals.
Di luar porsi sang tokoh utama, kehadiran jajaran pemain pendukung seperti Dayle Burton (Gillian Anderson) dan Sam Allison (Steven Yeun) memberi warna yang sama sekali bukan sekadar pelengkap poster.
Dihadirkan sebagai seorang spesialis penyelesaian krisis (crisis manager atau fixer) profesional yang dingin dan penuh kalkulasi, Dayle bekerja tanpa membiarkan emosi mencampuri tugasnya. Kehadirannya membawa perspektif rasional yang dibutuhkan keluarga Kimball saat kepanikan melanda. Ditambah peran Sam yang memberikan kalkulasi dan dampak dari sisi politiknya.
Selain itu, meski tidak dieksplor secara mendalam, kehadiran Ramon (Luis Gerardo Méndez) dan Cecilia Trujillo (Adriana Paz) juga memberi sentuhan ketimpangan kelas sosial yang berpengaruh terhadap opsi yang bisa dipilih dalam berbagai sektor kehidupan.
Pada akhirnya, Animals dirancang agak berbeda dari formula film penculikan pada umumnya yang kerap menjual adegan aksi fisik. Film ini lebih memilih berpusat pada intensitas percakapan dialog, negosiasi yang dingin, manajemen risiko, serta rangkaian opsi pengambilan keputusan sulit di bawah tekanan.
Meski harus dibayar dengan alur yang agak lambat dan menuntut kesabaran penonton di babak awal, film ini berhasil menyuguhkan ending yang terasa pas dan cukup memuaskan. Paruh akhirnya bekerja layaknya tebusan yang sepadan, memberikan penutup yang berbobot sekaligus meninggalkan ruang perenungan tentang harga dari sebuah kompromi moral.