Maaf, Rumah Kami bukan RUBUHA

Burung hantu Tyto Alba di belakang rumah kami.

Barusan saya memergoki seekor burung hantu Tyto alba sedang bertengger di sebuah alat masak tak terpakai di belakang rumah. Dapur kami ini posisinya paling buntet, cuma menyisakan celah tembok sekitar setengah meter dengan tembok tetangga.

Ada beberapa tikus yang biasa lalu-lalang di rumah, termasuk belakang dapur. Jadi saya menduga, burung ini adalah salah satu anggota kawanan yang kerap bertengger di atap rumah tetangga sebelah timur, bangunan tertinggi di wilayah RT kami, yang mencoba menangkap tikus namun akhirnya terjebak karena area yang sempit untuk bermanuver atau takeoff.

Jika saja kami bisa berkomunikasi, saya sebenarnya ingin memberikan saran. Kalau butuh tempat menetap yang tenang dan lebih aman, di luar sana ada banyak RUBUHA, singkatan dari Rumah Burung Hantu, yang disediakan oleh kelompok-kelompok organisasi sebagai bagian program pengendalian hama tikus di sawah secara alami. Toh denger-denger masih banyak yang belum berpenghuni.

Ya karena menarik Tyto alba liar agar berkenan tinggal dan menetap memang bukan perkara mudah. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah spesifikasi hunian itu sendiri. Tinggi dan arah penempatannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Karena termasuk nokturnal, pintunya sebaiknya tidak menghadap matahari terbit dan terbenam. Lalu untuk tiangnya minimal 3,5 meter dari permukaan tanah agar mempermudah ia memantau mangsa. Sementara faktor lain ya jumlah populasi yang kian menurun.

Jadi, ya sudahlah. Saya putuskan untuk membiarkannya saja di sana. Membiarkan dia pelan-pelan mengumpulkan keberanian dan mencari momentum yang pas untuk takeoff dari atas perabot masak bekas itu, saya tidak punya cukup keberanian untuk memaksanya pergi.

Tinggalkan Komentar