Review Film Haunted Universities 4

Poster Film Haunted Universities 4

Film antologi horor asal Thailand rasanya selalu punya daya tarik tersendiri bagi penonton Indonesia, terutama bagi mereka yang menyukai kisah menyeramkan yang berangkat dari urban legend.

Waralaba Haunted Universities kembali hadir dengan empat cerita berbeda dalam Haunted Universities 4. Disutradarai oleh empat sutradara berbeda, masing-masing kisah mengambil latar dari universitas di wilayah selatan, tengah, timur laut, dan utara Thailand.

Cerita diawali dengan kisah berjudul The White Bridge, mengikuti hubungan Mind dan Boss, sepasang mahasiswa yang telah mengakhiri hubungan asmara mereka, namun masih menjalin hubungan baik. Mind meminta Boss berpura-pura menjadi pacarnya sampai hari kelulusan. Mereka akhirnya sepakat mengakhiri sandiwara tersebut di sebuah jembatan. Sayangnya, tempat itu menyimpan kisah tersembunyi yang kemudian meneror mereka.

Premis ini memadukan persoalan asmara dengan legenda tempat yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan Mind (Violette Wautier) dan Boss (Kao Jirayu) menjadi pintu masuk menuju teror, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan kampus kadang bukan hanya tentang perkuliahan, tetapi juga hubungan personal yang terkadang menyisakan persoalan.

Lanjut di cerita kedua yaitu The Concubine Villa atau Vila Selir, yang menjadi favorit saya. Mengisahkan Grace (Jorin Khumpiraphan) yang menerima ajakan Biu (Prapamonton Eiamchan), seniornya, untuk melakukan pemotretan di sebuah vila terbengkalai yang berada di area belakang kampus.

Tidak hanya lebih berani menyajikan visual horor mengganggu, segmen kedua ini juga menurut saya berhasil menyelesaikan rasa iri yang dibangung sejak awal dengan ending yang cukup epik dan sarat akan penafsiran.

Memasuki bagian ketiga berjudul D-Day Night, mengangkat kisah tradisi penyambutan atau orientasi mahasiswa baru yang diselimuti kisah seram setelah terjadinya suatu insiden. Saat menonton, pada bagian awal  saya sudah merasakan atmosfer yang mirip saat menonton film sebelumnya, Haunted Universities 3, dimana terdapat bumbu-bumbu komedi di dalamnya.

Sayangnya, cerita ini juga tidak memberikan klimaks yang cukup membekas. Setelah mengikuti konflik dan menunggu bagaimana teror itu berakhir, saya justru merasa seperti ditinggalkan dengan kesan biasa saja. Komedi di sini seolah menjadi “penyelamat” karena jika gagal dibuat takut setidaknya penonton berhasil dibuat tertawa.

Kemudian film ditutup dengan cerita singkat berjudul Pink Room. Memperlihatkan Kaning, seorang mahasiswa baru yang terpaksa tinggal di sebuah kamar apartemen murah.

Mengambil kisah yang berkembang di masyarakat bahwa terdapat sebuah kamar yang dicat dengan warna merah muda bukan dengan maksud estetika, melainkan untuk menutupi tragedi kelam yang pernah terjadi disana.

Walau durasinya lebih singkat dibanding dengan ketiga segmen sebelumnya, Pink Room tetap berhasil membuat bulu kuduk merinding. Khususnya saat sesosok wanita yang muncul dari laci gerakannya sangat creepy.

Salah satu hal yang saya sukai dari Haunted Universities 4 adalah caranya membawa ketakutan lewat persoalan yang dekat dengan kehidupan universitas. Ada asmara yang belum benar-benar selesai, rasa iri yang berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan, tradisi orientasi kampus, hingga persoalan tempat tinggal yang seharusnya menjadi ruang aman bagi penghuninya. Semua itu menjadi pintu masuk bagi teror dalam masing-masing cerita.

Pendekatan tersebut membuat latar kampus terasa lebih dari sekadar tempelan. Kehidupan mahasiswa yang biasanya dipenuhi rutinitas, pertemanan, dan berbagai urusan pribadi justru menyimpan banyak kemungkinan untuk dikembangkan menjadi kisah horor. Setiap cerita menawarkan sudut pandang berbeda, sehingga penonton tidak terus-menerus disuguhi pola ketakutan yang sama.

Menonton film ini rasanya seperti menyimak obrolan kisah seram saat nongkrong bersama teman pada malam hari. Ada canda-tawa lewat pembawaan ceritanya, rasa penasaran walaupun pulangnya nanti ketakutan – cukup menyenangkan. Tidak semua cerita berhasil membuat bulu kuduk berdiri, tetapi selalu ada sesuatu yang membuat kita ingin tahu bagaimana kisahnya berakhir.

Tinggalkan Komentar