Review Film Ratsasan

Review Film Ratsasan

Menonton film thriller misteri menghadirkan kesenangan tersendiri. Kita diajak menyusun dugaan, mencurigai satu per satu karakter, lalu merasa paling pintar ketika tebakan kita benar. Pun sebaliknya, ada kepuasan tersendiri juga ketika film berhasil mengecoh dan membuat orang yang semula dicurigai ternyata bukan pelakunya.

Ratsasan berhasil memberikan permainan itu. Sepanjang film, saya mencoba ikut menebak siapa pembunuh sebenarnya. Ada kalanya keyakinan sudah hampir 80% menemukan jawabanya karena secara motif dan kejadian ada kecocokan, sebelum akhirnya harus menerima bahwa kecurigaan saya meleset.

Mengikuti Arun Kumar (Vishnu Vishal), seorang polisi pemula yang sebelumnya bercita-cita menjadi sutradara film pembunuh berantai namun gagal karena naskahnya selalu ditolak sebab dianggap terlalu gelap dan tidak sesuai dengan selera pasar.

Saking terobsesinya dengan kasus pembunuhan, ia mengoleksi klipingan koran dari berbagai kasus dan menempelkannya memenuhi dinding rumahnya.

Ia pun terlibat dalam penyelidikan kasus pembunuhan berantai terhadap siswi sekolah. Tentu saja kasus ini bukan perkara sederhana. Ada pelaku yang harus segera ditemukan, petunjuk yang perlu dirangkai, ditambah korban yang terus berjatuhan yang membuat penyelidikan terasa terdesak.

Sejak awal film ini sudah sukses membangun ketegangan melalui scoring yang apik walaupun dipadukan dalam scene pada siang hari. Tim make up dan special effects juga patut diapresiasi karena berhasil menghadirkan wujud mayat terbungkus plastik yang nampak mengerikan.

Selain itu, kita juga diberikan gambaran sejak awal proses penyelidikan kasus bermula bahwa tantangan hadir tidak hanya dari si pelaku melainkan juga dari dalam tubuh kepolisian itu sendiri melalui si kepala polisi, Lakshmi (Susan George).

Di tengah penyelidikan kasus pembunuhan berantai yang terus memakan korban, rasanya sulit memahami bagaimana seorang kepala polisi bisa begitu mengabaikan sesuatu yang berpotensi membantu mengungkap kasus tersebut. Adegan ini membuat Lakshmi terlihat tidak mampu menentukan prioritas. Alih-alih menjadi sosok yang membantu penyelidikan berjalan lebih efektif, ia justru terasa seperti penghalang bagi orang-orang yang berusaha menyelesaikannya.

Memang, konflik antara atasan dan bawahan bukan hal baru dalam film kriminal. Namun, bagi saya, keberadaan Lakshmi menarik karena membuat tantangan yang dihadapi Arun tidak berhenti pada upaya menemukan pembunuh. Ia juga harus menghadapi persoalan di dalam institusi yang seharusnya menjadi tempatnya bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.

Situasi ini kemudian membuat tindakan Arun dan rekan-rekannya yang memilih mengambil inisiatif sendiri terasa cukup bisa dimengerti. Ketika atasan tidak mampu memberikan arahan atau dukungan yang dibutuhkan, kepatuhan justru berisiko menjadi penghambat. Dalam kondisi seperti itu, mengikuti perintah bukan selalu berarti melakukan hal yang benar.

Meski begitu, saya tidak ingin buru-buru menganggap pembangkangan sebagai sesuatu yang otomatis benar. Keputusan untuk mengabaikan atasan tetap perlu didasari alasan yang kuat, terlebih dalam penyelidikan kriminal. Namun, Ratsasan setidaknya memperlihatkan bagaimana buruknya kepemimpinan dapat menciptakan persoalan baru di tengah upaya mengungkap kejahatan.

Di sisi lain, saya tetap menikmati cara film ini menjaga rasa penasaran terhadap identitas pelaku. Kecurigaan yang sempat saya bangun tidak selalu berujung pada jawaban yang benar, dan itulah yang membuat saya terus ingin mengikuti perkembangan penyelidikan. Film ini tidak hanya mengandalkan keberadaan pembunuh berantai sebagai sumber ketegangan, tetapi juga memainkan rasa ingin tahu penonton tentang bagaimana kasus tersebut akhirnya akan terungkap.

Namun, membuat penonton penasaran tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan film misteri. Kejutan yang disajikan tetap perlu terasa masuk akal ketika seluruh petunjuk dan motif pelaku akhirnya terungkap. Begitu pula dengan konflik yang dialami tokoh utama. Hambatan bisa membuat cerita semakin menarik, tetapi jika muncul dari keputusan karakter yang terasa tidak masuk akal, hambatan itu justru berpotensi mengganggu pengalaman menonton.

Yang sedikit saya sayangkan adalah prostetik yang dipakai sipelaku terkesan “murahan” sehingga sedikit mengganggu kesan visual yang dihadirkan saat menontonya. Padahal sudah didukung oleh scoring yang mencekam.

Bagi saya, film ini berhasil membangun ketegangan dan menjaga rasa penasaran sepanjang penyelidikan. Namun, kehadiran Lakshmi juga menyisakan sedikit ganjalan. Saya bisa menerima bahwa Arun harus menghadapi berbagai kesulitan untuk mengungkap kasus, tetapi beberapa keputusan yang ditampilkan membuat saya bertanya-tanya apakah konflik tersebut memang dikembangkan secara meyakinkan atau sekadar digunakan untuk menambah hambatan bagi tokoh utama.

Pada akhirnya, Ratsasan tetap menjadi film thriller misteri yang menarik untuk diikuti, terutama bagi penonton yang senang mencoba menebak identitas pelaku sebelum jawabannya terungkap. Saya menikmati permainan kecurigaan yang ditawarkan film ini, ketegangan yang dibangun melalui musik dan tata suara, serta atmosfer mengerikan yang dihadirkan tanpa harus terus-menerus menampilkan kekerasan secara gamblang.

Tinggalkan Komentar