Asap Rokok di Pojok Warung

Asap Rokok di Pojok Warung

Hukum pertama untuk bertahan hidup di dunia yang fana ini adalah tahu diri. Dan malam ini tempat untuk menguji hukum itu bukanlah di ruang sidang atau mimbar khotbah, melainkan di balik etalase sebuah warung makan.

Saat itu ibu saya sedang menunaikan sholat magrib, kendali warung berpindah ke tangan saya. Di saat itulah ia datang. Seorang anak laki-laki, usianya mungkin baru menapak lima belas tahun. Kulitnya legam, jenis kulit yang khatam berteman dengan terik matahari siang. Ia memakai kaos hitam dan celana jeans pendek.

Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di pojokan pintu warung, menghalangi sedikit cahaya lampu, sembari membiarkan kepulan asap rokok keluar dengan santai dari mulutnya. Lalu, dengan suara yang kedengaran biasa saja, ia meminta makan.

Dan seketika itu juga, mesin prasangka di kepala saya bekerja dengan kecepatan penuh. Saya menolaknya.

Alasan resminya tentu saja birokrasi. Saya hanyalah pekerja, sementara pemegang otoritas tertinggi warung ini sedang bersujud menghadap Penciptanya. Saya tidak berani mengambil keputusan diluar sistem tanpa dasar persetujuan atau perintah darinya.

Tapi ada sebab lain yang datang lebih dulu. Saya merasa dia tidak layak ditolong.

Karena Jika miskin dan kelaparan ada standarisasi yang harus kau penuhi. Maka tunjukkanlah kemiskinanmu dengan paripurna. Datanglah dengan wajah yang memelas, bibir yang bergetar, dan gestur tubuh yang membungkuk. Jangan sekali-kali meminta makan sembari menjepit sebatang tembakau di jemarimu. Itu tidak sopan.

Bagi orang-orang rumahan seperti saya, ada asas kepantasan yang tidak tertulis. Orang lapar harus kelihatan menderita. Jika engkau masih bisa mengepulkan asap rokok, artinya hidupmu masih aman-aman saja.

Rokok adalah barang tersier, ia adalah kemewahan bagi perut yang kosong. Maka bagi seorang anak jalanan, memegang rokok saat meminta makan adalah sebuah kekeliruan. Lapar dan rokok tidak boleh berada dalam satu ruang dan waktu.

Setelah mendengar penolakan saya, anak itu pergi. Tanpa sepatah kata, tanpa makian, ia berlalu begitu saja membawa serta kepulan asapnya ke dalam kegelapan malam.

Namun, sialnya, ia meninggalkan sesuatu yang tidak bisa saya sapu dari lantai warung, rasa tidak enak yang mengganjal di dada.

Saya ini gemar menonton film. Di dalam sinema, saya mudah sekali memahami manusia. Saya bisa mengerti kenapa anak-anak menjadi keras. Saya bisa memahami tokoh yang hidupnya berantakan.

Saya bisa menangkap bahwa lingkungan, keadaan, dan umur sering membuat orang mengambil keputusan yang tidak masuk akal.

Di depan layar, saya cukup murah hati. Tapi di depan pintu warung sendiri, saya ternyata cukup melihat satu batang rokok.

Tiba-tiba saya berkaca pada diri saya sendiri. Bukankah pada usia lima belas tahun, saya adalah makhluk impulsif yang bebal? Berapa kali dulu saya menghabiskan uang jajan sekolah yang seharusnya untuk membeli nasi, hanya demi membeli barang-barang yang saya sukai? Sama seperti rasa suka anak itu terhadap tembakau.

Bedanya, saat saya berbuat bodoh, saya tahu pasti akan ada rumah hangat yang menampung saya, dan ada makan malam yang tetap tersedia di meja. Dan di situ saya berhenti membandingkan.

Ibu saya selesai sholat. Warung kembali aman di bawah kendalinya. Namun saya tahu, ada yang runtuh dalam diri saya. Anak laki-laki berkulit legam itu telah pergi entah ke mana.

Saya tidak tahu apakah keputusan saya salah. Saya juga tidak tahu apakah seandainya saya memberinya sebungkus nasi, itu akan mengubah keadaan.

Yang saya tahu cuma satu…

Saya ternyata masih cukup percaya diri untuk mengenali isi hidup seseorang hanya dari asap yang keluar dari mulutnya.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top