
Bagi seorang content creator, entah itu selebgram, tiktokers, dan tentu saja blogger atau content writer, salah satu problem utama dari bekerja di industri kreatif ini adalah mencari ide.
Kita dituntut terus-menerus memutar otak untuk membuat konten baru setiap hari, sementara rasanya ide di kepala sudah hampir habis.
Nah, saat teman-teman sedang mentok, ada satu strategi yang bisa digunakan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan konten setiap hari, yaitu repurposing content.
Singkatnya, repurposing content adalah cara dimana kita mendaur ulang konten yang sudah ada ke dalam bentuk format baru.
Lalu, apakah strategi ini efektif dan bagaimanakah cara melakukannya? Simak ulasannya berikut untuk menemukan jawabannya!
Apa Itu Repurposing Content?
Secara sederhana, repurposing content adalah proses mengambil konten yang sudah teman-teman buat sebelumnya, lalu mengubahnya menjadi format yang berbeda.
Bayangkan teman-teman punya satu artikel blog yang sangat lengkap. Daripada membiarkannya tenggelam ditumpuk artikel baru, teman-teman bisa mengambil inti sarinya lalu mengubahnya menjadi video pendek, infografis, atau utas di media sosial.
Menurut Optimizely, repurposing content adalah praktik menggunakan kembali aset konten yang sudah ada untuk memperluas jangkauan audiens dan memperpanjang masa hidup konten tersebut.
Jadi, tujuan dari metode ini adalah agar satu ide bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dengan cara yang berbeda-beda.
Perbedaan Repurposing dan Republishing Content
Nah, di sinilah banyak orang sering salah kaprah. Banyak yang mengira repurposing itu sama dengan memposting ulang atau republishing. Padahal, keduanya sangat berbeda.
Republishing adalah ketika teman-teman mengambil konten yang sama persis, tanpa mengubah isinya, lalu mempostingnya kembali di tempat lain.
Misalnya, teman-teman menyalin (copy-paste) artikel dari website pribadi lalu menerbitkannya lagi di LinkedIn Articles atau Medium.
Sedangkan Repurposing, kuncinya ada pada transformasi atau perubahan bentuk. Teman-teman tidak sekadar menyalin, tapi mengolahnya lagi.
Teman-teman mengambil data survei dari artikel blog, lalu mengubahnya menjadi gambar visual yang menarik untuk Instagram. Di sini terjadi perubahan format dari teks menjadi gambar. Itulah seni dari repurposing content.
Manfaat Repurposing Content untuk SEO
Selain membantu kita menghemat stok ide agar tidak cepat habis, strategi ini ternyata punya dampak yang sangat positif untuk performa SEO website teman-teman. Mengapa bisa begitu? Berikut alasannya:
1. Mendapatkan Peluang Backlink Baru
Format konten yang berbeda memiliki daya tarik yang berbeda pula. Artikel teks mungkin bagus untuk informasi mendalam, tetapi konten visual seperti infografis atau video cenderung lebih mudah dibagikan dan dijadikan referensi oleh situs lain.
Ketika teman-teman mengubah data artikel menjadi infografis yang menarik, peluang situs lain untuk menyematkan gambar tersebut dan memberikan link ke website kita menjadi lebih besar. Ini adalah strategi untuk mendapatkan backlink secara natural.
2. Mendominasi Halaman Pencarian Google (SERP)
Coba perhatikan halaman pencarian Google saat ini. Isinya tidak hanya deretan teks biru, kan? Google sering menampilkan video carousel, gambar, hingga cuplikan pertanyaan.
Dengan melakukan repurposing, teman-teman memiliki aset dalam berbagai bentuk seperti teks, video, dan gambar.
Artinya, teman-teman punya peluang untuk muncul di berbagai bagian halaman pencarian tersebut sekaligus, sehingga brand kita terlihat lebih dominan dibandingkan kompetitor yang hanya mengandalkan teks.
3. Menjangkau Audiens yang Lebih Luas
Harus diakui, tidak semua orang suka membaca artikel panjang. Ada tipe audiens yang lebih cepat paham jika menonton video atau mendengarkan audio.
Mengutip dari Backlinko, repurposing memungkinkan kita untuk mempublikasikan konten di platform yang sebelumnya tidak terjangkau oleh artikel blog biasa.
Dengan begitu, kita bisa menemukan audiens baru yang mungkin tidak akan pernah mampir ke website kita lewat pencarian organik biasa.
4. Memberikan Sinyal “Freshness” ke Google
Google sangat menyukai konten yang segar dan diperbarui. Saat teman-teman memperbarui artikel lama dengan format baru, Google akan melihat bahwa konten tersebut masih relevan dan “hidup”. Ini bisa membantu mendongkrak peringkat artikel lama yang mungkin trafiknya sudah mulai turun.
Cara Menentukan Konten Mana yang Layak Di-Repurpose
Setelah mengetahui manfaatnya, mungkin teman-teman ingin segera mengubah semua artikel lama menjadi format baru. Namun perlu diingat, tidak semua konten layak untuk didaur ulang.
Melakukan repurposing pada konten yang sejak awal performanya buruk atau isinya kurang menarik hanya akan membuang waktu kita. Kita harus selektif agar energi yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang didapatkan.
Berikut tiga kriteria utama untuk memilih konten terbaik yang siap diolah kembali:
1. Pilih Konten yang Bersifat Evergreen
Prioritas utama adalah konten evergreen. Ini adalah jenis konten yang topiknya tetap relevan dalam jangka waktu lama dan tidak terikat oleh tren sesaat.
Contoh sederhananya, artikel tentang “cara memulai bisnis online” akan tetap dicari orang bulan depan bahkan tahun depan. Sebaliknya, berita tentang “diskon idul fitri 2024” besar kemungkinan tidak ada yang mencari setelah tanggalnya lewat.
Jadi, sebaiknya fokuslah pada konten evergreen karena usianya panjang dan bisa terus mendatangkan trafik.
2. Lihat Data Artikel Terpopuler
Jangan menebak-nebak. Coba teman-teman buka Google Analytics atau data statistik media sosial kalian.
Cari tahu artikel mana yang memiliki trafik tertinggi atau postingan mana yang paling banyak mendapatkan komentar dan share.
Karena secara logika, jika sebuah konten sudah terbukti disukai banyak orang dalam format teks, besar kemungkinan konten tersebut juga akan sukses jika dibuat dalam format video atau infografis. Gunakan konten juara teman-teman sebagai bahan baku utama.
3. Konten dengan Topik yang Rumit
Terkadang, ada materi yang sulit dipahami audiens jika hanya dibaca dalam bentuk teks yang panjang dan padat. Misalnya, panduan teknis yang njelimet atau laporan data statistik industri.
Konten “berat” seperti ini adalah kandidat terbaik untuk dijadikan video tutorial atau infografis visual. Mengubah formatnya menjadi visual akan membantu audiens memahami topik sulit tersebut dengan cara yang jauh lebih mudah dan menyenangkan.
4 Strategi Repurposing Content yang Efektif
Setelah kita mengantongi daftar konten mana saja yang layak diolah, pertanyaan selanjutnya adalah mau diubah menjadi apa?
Sebenarnya ada banyak sekali cara untuk mengubah format konten, tapi agar tidak bingung, saya sudah merangkum empat strategi yang paling teruji efektivitasnya dalam dunia content marketing.
1. Ubah Artikel Blog Menjadi Video
Saat ini, video adalah raja konten. Banyak audiens yang malas membaca 1.000 kata, tapi betah menonton video penjelasan selama 3 menit.
Teman-teman bisa mengambil artikel blog terpopuler, lalu gunakan sub-judulnya sebagai poin-poin naskah.
Rekam menggunakan HP untuk format vertikal (TikTok/Reels) atau buat presentasi sederhana untuk YouTube. Dengan cara ini, satu naskah artikel bisa berubah menjadi konten video yang menarik.
2. Ubah Data Statistik Menjadi Infografis
Apakah teman-teman punya konten yang berisi data, angka, atau hasil riset? Jika disajikan dalam bentuk teks panjang, biasanya data seperti ini membosankan dan sering dilewatkan pembaca.
Coba ubah data tersebut menjadi infografis atau carousel (slide gambar) yang visualnya menarik. Konten visual seperti ini sangat disukai di media sosial seperti Instagram, LinkedIn, atau Pinterest.
Selain lebih mudah dipahami, infografis juga jauh lebih sering dibagikan ulang oleh orang lain.
3. Transkrip Video atau Podcast Menjadi Artikel Blog
Strategi ini adalah kebalikan dari poin pertama. Jika teman-teman pernah mengadakan webinar, Live IG, atau merekam podcast, jangan biarkan rekamannya mengendap begitu saja.
Transkrip percakapan dalam rekaman tersebut bisa diubah menjadi artikel blog yang ramah SEO. Dengan begitu, teman-teman bisa menjaring audiens yang lebih suka membaca daripada menonton.
Selain itu, mesin pencari seperti Google jauh lebih mudah memahami teks daripada audio, sehingga ini bagus untuk peringkat website teman-teman.
4. Kumpulkan Artikel Sejenis Menjadi E-book
Coba cek arsip blog teman-teman. Apakah ada beberapa artikel yang membahas topik yang saling berkaitan? Misalnya, ada artikel tentang “Riset Keyword”, “On-Page SEO”, dan “Off-Page SEO”.
Alih-alih membiarkannya terpisah, teman-teman bisa menggabungkan artikel-artikel tersebut menjadi satu file PDF utuh atau E-book bertajuk “Panduan Lengkap SEO”.
E-book tersebut nantinya bisa dijadikan lead magnet, yaitu konten gratis yang bisa diunduh audiens dengan syarat mereka memasukkan alamat email. Jadi, konten lama teman-teman bisa menjadi alat ampuh untuk mengumpulkan database calon klien.
Menurut NYT Licensing, melakukan transformasi seperti ini adalah cara terbaik untuk memperpanjang siklus hidup konten berkualitas, sehingga aset yang kita buat tidak hanya sekali pakai buang.
Baca juga: Apa itu Search Intent? Kunci Sukses Content Marketing di Era SEO Modern
Mitos SEO: Apakah Repurposing Menyebabkan Duplicate Content?
Seringkali, saat strategi ini dibahas, muncul satu kekhawatiran besar di benak teman-teman. “Nanti kalau kontennya saya post ulang, apa tidak kena hukuman duplicate content dari Google? Nanti ranking website saya malah turun dong?“
Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar. Namun, jawabannya adalah: Tidak, jika dilakukan dengan benar. Mari kita luruskan mitos ini agar teman-teman bisa tidur nyenyak.
Pertama, Google itu mesin yang sangat cerdas. Jika teman-teman mengubah artikel blog (teks) menjadi video YouTube atau gambar di Instagram, Google tidak akan menganggapnya sebagai duplikat.
Mengapa? Karena formatnya jelas berbeda. Teks dan video adalah dua entitas yang berbeda di mata mesin pencari. Jadi, untuk alih wahana antar format seperti ini, teman-teman 100% aman.
Kedua, bagaimana jika teman-teman memposting ulang artikel teks yang sama persis atau republishing ke platform lain seperti Medium, LinkedIn, atau Kompasiana? Apakah ini berbahaya?
Sebenarnya tidak dilarang, asalkan teman-teman “jujur” kepada Google. Caranya adalah dengan memberikan sinyal yang jelas mengenai mana konten yang asli.
Dalam dunia SEO, kita mengenal istilah Canonical Tag. Sederhananya, ini adalah cara teknis untuk memberitahu Google bahwa konten tersebut hanya salinan, sedangkan versi aslinya ada di website kita.
Jadi, jangan biarkan ketakutan akan mitos ini menghalangi kreativitas teman-teman. Selama tujuannya untuk menyebarkan manfaat dan bukan untuk memanipulasi ranking secara curang (spam), Google justru mendukung distribusi konten yang luas.
Penutup
Repurposing content adalah cara kita bekerja lebih cerdas untuk memaksimalkan aset yang sudah ada.
Strategi ini tidak hanya menghemat waktu dan tenaga teman-teman, tapi juga terbukti ampuh untuk memperluas jangkauan audiens serta mendongkrak performa SEO.
Sekarang giliran teman-teman untuk beraksi. Coba cek satu saja konten terpopuler kalian yang lalu, pilih format baru, dan daur ulang konten tersebut minggu ini.
Selamat mencoba!
Baca juga: Sales Funnel Content Marketing: Strategi Mengubah Awareness Menjadi Conversion
Referensi:
- https://backlinko.com/hub/content/repurposing
- https://www.optimizely.com/optimization-glossary/content-repurposing/
- https://nytlicensing.com/latest/methods/repurposing-content-guide/