User Experience Saklar Lampu

Selayaknya umum, ketika sinar matahari sudah mulai layu, itu menjadi alarm tanpa suara saya untuk menekan saklar lampu.

Ada tiga lokasi di rumah saya yang wajib terang di malam hari, ruang depan, ruang tengah, dan dapur. Selebihnya situasional.

Untuk ruang depan dan tengah saya menyelesaikannya dengan mudah (dan memang sudah seharusnya menyalakan saklar itu mudah) namun, untuk area dapur ini yang menjadi musabab cerita ini.

Di sana ada dua tombol saklar berdampingan. Satu untuk lampu area depan dapur, satunya untuk yang sedikit kebelakang.

Niat saya mulia, ingin berhemat listrik. Saya hanya butuh lampu depan saja yang hidup karena sinarnya sudah cukup menerangi seluruh ruangan.

Saklar Lampu Dapur

Sesaat sebelum menekan saklar, yang selalu ada dipikiran adalah momen mengingat saklar mana yang tersambung dengan lampu depan dapur.

Tangan saya terulur, jari menekan tombol yang terpilih dengan mantap. Klik.

Dan… yang menyala justru lampu belakang. Bagian depan dapur tetap gelap.

Saya mendengus kesal. “Hadeh, salah lagi!”

Saya matikan lampu belakang, lalu menekan tombol yang satunya. Akhirnya lampu depan menyala. Tapi rasa jengkel kecil itu tertinggal. Bukan jengkel pada lampunya, tapi pada diri saya sendiri.

Lampu Depan Dapur

Saya sudah tinggal di sini bertahun-tahun. Saya melakukan ritual ini setiap hari. Tapi entah kenapa, hampir setiap sore saya melakukan kesalahan yang sama.

Pertanyaan konyol pun muncul di kepala, “Apakah saya mulai pikun? Kenapa otak saya tidak bisa mengingat posisi saklar sederhana ini?”

Ya, saya memang pelupa, namun khusus untuk kali ini saya tidak bisa menerimanya. Akhirnya saya mulai mencari semacam “pembenaran diri”.

Bukan Soal Ingatan Saja

Pencarian saya akan “pembenaran diri” pun membuahkan hasil, kejadian ini mungkin bukan soal saya yang mulai pikun, tapi cara kerja otak manusia yang unik.

Saya menemukan jawabannya dalam buku Thinking, Fast and Slow karya peraih Nobel, Daniel Kahneman. Di sana dijelaskan bahwa otak manusia memiliki dua mode operasi:

  • Sistem 1: Bekerja secara otomatis dan cepat, dengan sedikit atau tanpa usaha yang diperlukan.
  • Sistem 2: Bekerja lambat, logis, penuh perhitungan, dan memakan banyak energi.

Jadi.. otak saya, khususnya sistem 1, diprogram dengan prinsip Natural Mapping (Pemetaan Alami). Ia menyukai keselarasan dan semacam hukum alam.

Jika ingin belok kiri, maka langsung putar setir ke kiri.

Jika ingin meningkatkan level volume speaker, maka geser ke atas atau putar ke kanan.

Sedangkan, sistem 2 digunakan pada saat ada permasalahan seperti:

17 x 24

Mungkin kita langsung tahu bahwa itu soal perkalian, dan mungkin kita juga tahu bahwa kita bisa menyelesaikannya dengan bantuan kertas dan pensil. Kita juga memiliki pengetahuan intuitif samar akan kisaran kemungkinan jawabannya.

Kita bisa cepat tahu bahwa 13.230 dan 113 nampak tidak menjadi jawaban soal tersebut. Namun kita juga tak langsung yakin kalau 568 adalah jawabannya. Hasilnya tak langsung terpikir, jadi kita lebih memilih menghitungnya.

Jadi, menyalakan lampu dapur ini bukan soal rumit dan masuk sistem 1, jika lampu ada di area depan (dekat), maka saklarnya haruslah yang paling dekat dengan kita.

Akan tetapi yang terjadi dengan saklar lampunya adalah instalasi listriknya melawan intuisi ini (Incompatible Mapping).

Setiap sore, terjadi perang batin tanpa sadar. Sistem 1 berteriak “Tekan yang dekat! Itu paling masuk akal!” Sementara Sistem 2 berbisik lemah “Tunggu, ingat, kabelnya terbalik. Tekan yang jauh.”

Apalagi, sore hari adalah waktu di mana energi mental kita sudah terkuras. Saat lelah, otak cenderung “mengistirahatkan” Sistem 2 dan menyerahkan kendali penuh pada Sistem 1 (insting). Jadi, ketika saya salah tekan tombol, itu bis jadi bukan karena memori saya lemah. Itu karena insting alami saya bekerja sempurna, namun dikhianati oleh desain saklar yang buruk.

Mengetahui bahwa ini adalah masalah design error dan bukan user error membuat saya merasa jauh lebih lega.

Saya tidak sedang mengalami penurunan fungsi otak, saya hanya korban dari tukang listrik yang mungkin sedang melamun saat memasang kabel.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top