
Kehadiran AI banyak menuntut para pelaku SEO untuk beradaptasi.
Karena perilaku audiens melakukan pencarian berubah dan kita perlu memastikan apakah metode ÿang digunakan masih relevan.
Beberapa waktu lalu, kita sudah membahas cara mengukur performa SEO di era AI Search, karena ada beberapa metrik tradisional yang kurang pas untuk dijadikan sebagai variabel pengukuran saat ini.
Sekarang kita coba ulik ke hal yang lebih mendasar lagi, yaitu keyword research atau riset keyword.
Kira-kira seperti apa tantangannya dan bagaimana strategi adaptasinya, mari kita lihat bersama pada ulasan berikut.
Perubahan Lanskap Pencarian
Coba teman-teman bayangkan, saat ini sebagian besar orang pergi ke Google bukan lagi mengetik apa yang mereka cari, namun ke LLM/AI chatbot.
Baru disanalah mereka akan memberi tahu apa yang mereka mau, entah itu sebuah tutorial, rekomendasi, diskusi, dan AI bisa memenuhi kebutuhan itu. Nah, disinilah hal menarik dimulai.
Pada model pencarian tradisional, pengguna biasanya memasukkan kata kunci spesifik seperti “cara membuat kue brownies” atau “rekomendasi laptop 5 jutaan”.
Mesin pencari kemudian menampilkan daftar halaman web yang relevan dan kita sebagai praktisi SEO melakukan optimasi berdasarkan kata-kata tersebut.
Namun dalam AI Search, pola ini berubah drastis. Pengguna tidak lagi fokus pada kata kunci, tetapi pada intention, konteks, dan kebutuhan yang mereka komunikasikan secara natural.
Prompt mereka bisa jauh lebih panjang, lebih percakapan, dan bersifat multi-intent.
Misalnya:
“Aku butuh laptop untuk kerja remote, sering video call, dan kadang main game ringan. Kasih rekomendasi sekaligus alasan kenapa cocok ya?”
Di sini, AI tidak lagi bekerja seperti search engine biasa. Ia mencerna konteks, memahami detail, lalu menyusun jawaban.
Maka, yang muncul bukan daftar halaman, tetapi jawaban langsung. Dampaknya, jenis data yang kita pakai untuk riset keyword pun bergeser.
Tantangan Riset Keyword di Era AI Search

Sekarang mari kita lihat apa saja tantangannya, teman-teman.
1. Data pencarian tidak lagi terbuka seperti dulu
Dulu, saat semua orang mencari lewat Google, kita bisa melihat data pencariannya lewat tools seperti Ahrefs, Semrush, atau Keyword Planner.
Sekarang banyak orang bertanya langsung ke AI seperti Chat GPT, Perplexity, atau Gemini.
Masalahnya, AI tidak membagikan data percakapan mereka, jadi kita tidak tahu sebenarnya apa saja yang orang tanyakan di sana.
Dan sampai saat tulisan ini dibuat, belum ada tools yang dapat menampilkan data percakapan yang relevan dengan bisnis kita dan bisa kita gunakan untuk bahan optimasi.
Kalau pun ada, itu pun masih belum akurat.
2. Pertanyaan dari pengguna jadi jauh lebih variatif
Di Google, orang biasanya mengetik pendek dan to the point: “cara edit video di HP”. Di AI, pertanyaannya bisa panjang dan sangat natural:
“Tolong jelasin cara edit video di HP yang gampang buat pemula, sekalian rekomendasi aplikasinya yang gratis ya.”
Variasi seperti ini sulit ditangkap oleh tools keyword tradisional
3. AI memberikan jawaban langsung, bukan daftar link
Ini tantangan besar. Walaupun teman-teman berhasil menargetkan sebuah keyword, tidak ada jaminan orang akan datang ke website teman-teman. AI bisa langsung menjawab tanpa perlu mengirim trafik.
Artinya, riset keyword tidak lagi fokus hanya “mendapatkan ranking”, tapi bagaimana konten kita bisa dipakai AI sebagai rujukan.
Strategi Riset Keyword di Era AI Search
Sekarang mari kita coba beradaptasi dengan bagaimana menemukan queries yang bisa kita pakai sebagai bahan optimasi.
Yang mana secara garis besar strategi ini terdiri dari 3 bagian/step, sebagai berikut:
Disclaimer: ini hanya sebatas metode yang memungkinkan brand/situs kita bisa muncul sebagai kutipan di LLM seperti Chat GPT, Perplexity, dll. Tidak menjamin ranking di SERP.
Step 1: Identifikasi Potensi Percakapan yang Relevan
Karena tidak ada tools yang menyediakan data percakapan pengguna dengan AI, maka kita perlu melakukan brainstorm sendiri untuk mencari potensi pertanyaan real/natural dari user yang relevan dengan bisnis kita.
Untuk mempercepat, kita bisa bertanya ke AI itu sendiri. Berikut prompt yang bisa digunakan:
Prompt:
Saya mempromosikan [masukkan produk/layanan] (“produk”). Mohon:
1) Identifikasi faktor umum yang menghubungkan masalah, situasi, atau kebutuhan pelanggan dengan produk ini.
2) Uraikan faktor tersebut menjadi sub kategori logis (seperti pencernaan, kulit, mobilitas, untuk anjing; atau SEO teknis, SEO on-page, pertumbuhan trafik untuk plugin).
3) Berikan pertanyaan percakapan dan situasional yang akan ditanyakan orang sungguhan secara online, dikelompokkan dalam setiap sub kategori, yang secara alami mengarah pada produk saya sebagai solusinya.
Dari situ AI akan memberikan beberapa daftar pertanyaan yang terbagi dalam berbagai sub kategori intent.

Silahkan koreksi apakah pertanyaan-pertanyaan yang muncul sesuai dengan bisnis teman-teman.
Step 2: Menemukan Keyword Tradisional
Kita tahu bahwa hasil jawaban yang diberikan oleh AI kepada pengguna adalah berasal dari berbagai sumber, tak terkecuali website.
Oleh karena itu, kita mengetahui website mana saja yang dijadikan sumber untuk menjawab daftar pertanyaan sebelumnya untuk menemukan keyword tradisional yang muncul.
Berikut langkah-langkahnya:
- Buka LLM yang akan digunakan (misalnya Perplexity).
- Masukkan pertanyaan di kotak input, tulis dengan bahasa yang natural dan jelas.

- Setelah AI menjawab, cari bagian sumber (sources). Di Perplexity biasanya ada tombol “Sources” atau angka-angka referensi pada jawaban.

- Dari daftar sumber tersebut, perhatikan website-website yang dijadikan referensi dan identifikasi kata kunci tradisional yang muncul di meta title halaman-halaman itu.

Konten yang muncul sebagai rujukan biasanya akan terdiri dari beberapa layer intent. Hal ini sesuai karena untuk memberi jawaban AI menganalisis banyak sumber. - Catat semua kata kunci tradisional yang ditemukan ke dalam spreadsheet agar bisa dianalisis lebih lanjut.

Step 3: Menghitung Search Volume
Terakhir adalah menghitung berapa volume pencarian untuk mengetahui seberapa besar potensi market share yang ada di satu pertanyaan.
Dalam hal ini kita bisa menggunakan tools yang biasa digunakan seperti Semrush, Ahref atau yang gratis Keyword Planner dari Google.
Kali ini saya akan menggunakan keyword planner, berikut langkah-langkahnya:
- Setelah masuk ke Keyword Planner, pilih opsi “Dapatkan Volume Penelusuran dan Perkiraan”.
- Masukkan daftar keyword atau pertanyaan yang sudah kamu kumpulkan ke dalam kotak input. Kamu bisa memasukkan banyak keyword sekaligus (dipisahkan dengan koma) untuk analisis sekaligus.
- Atur target lokasi dan bahasa supaya datanya relevan dengan audiens. Contohnya: pilih “Indonesia” dan “Bahasa Indonesia” jika target pasar kamu di Indonesia.
- Klik tombol “Mulai” (sesuai tampilan) untuk menampilkan perkiraan volume dan metrik lainnya.

- Pindahkan volume ke dalam spreadsheet dan jumlahkan semua tradisional keyword.

Penutup
Riset keyword di era AI Search memberi tantangan baru, tetapi dengan strategi yang tepat kita masih bisa menemukan pertanyaan relevan, menggali keyword tradisional, dan menghitung volumenya secara cermat.
Ini bukan sekadar soal trafik, melainkan bagaimana konten kita dapat menjadi referensi yang dipakai oleh AI.
Teman-teman dapat mulai menerapkan metode ini sekarang, kemudian mengevaluasi hasilnya secara berkala.
Semakin sering kita menyesuaikan dan mengasah strategi, makin besar peluang konten kita muncul di jawaban AI.
Catatan penting: metode yang dijelaskan di sini hanyalah salah satu cara. Mungkin sangat berhasil dalam beberapa situasi, atau bisa jadi kurang cocok di konteks lain. Gunakan sebagai panduan, bukan jaminan mutlak.
Referensi: