
Dalam film terbarunya ini, sutradara Zach Cregger memang tidak membawa nama-nama kawakan dalam waralaba seperti Leon S. Kennedy atau Claire Redfield ke layar lebar. Namun, karya Cregger kali ini terasa paling jujur dan seolah dibuat khusus untuk menyapa saya dan kalian semua para penggemar gimnya. Film ini tidak sekadar meminjam nama besar “Resident Evil”, ia benar-benar memahami daya tarik utama dari genre gim horor bertahan hidup (survival horror).
Film ini mengikuti perjalanan malam terpanjang dalam hidup Bryan (Austin Abrams) seorang kurir medis yang menerima tawaran paket penting ke rumah sakit di Racoon City. Hingga di tengah jalan, mobilnya tak sengaja menabrak perempuan yang mengubah misi pengantaran biasa sekaligus menjadi misi bertahan hidup.
Melihat bagaimana Cregger mengeksekusi film ini, rasanya ia sedang asyik bermain gim di kursi sutradara. Perjalanan Bryan dibuat bak seorang gamer yang baru memulai petualangannya. Mulai dari mencari barang yang dibutuhkan, mempelajari cara menggunakannya, sampai mengumpulkan persediaan untuk menghadapi makhluk yang semakin sulit untuk dikalahkan.
Proses observasi karakter utama pada bagian awal langsung membangkitkat gairah penggemar gim. Bagaimana Bryan menjelajahi sebuah rumah terpencil setelah dikejar seekor anjing dengan kemampuan fisik yang tidak wajar. Sekali lagi, anjing-anjing dalam semesta ini memang punya reputasi tersendiri. Bahkan sebelum melihat wujudnya secara utuh, kemunculan mereka di tengah situasi wabah saja menunjukan ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
Selain itu, atmosfer ketegangan juga semakin terasa lewat adegan-adegan membuka rantai gembok atau pencarian kunci di tengah kejaran makhluk-makhluk aneh. Penonton awam akan menikmati rasa tegang itu walau formulanya terasa repetitif di genre film sejenis, namun lagi-lagi bagi para gamer, ini seolah menjadi gambaran membuka akses menuju stage berikutnya.
Kengerian pun terus meningkat seiring malam terpanjang dalam hidup Bryan berlangsung. Tapi Cregger tidak terburu-buru mengeluarkan seluruh persenjataannya. Ancaman yang mula-mula sebatas situasi tak lazim, berkembang menjadi parade makhluk dengan desain tubuh yang semakin tidak masuk akal. Sosok gadis dengan kaki yang berubah menjadi tentakel hingga makhluk di saluran pembuangan menghadirkan kengerian yang lebih dekat dengan body horror daripada sekadar teror zombi konvensional.
Lalu, untuk memberikan efek kejut, pendekatan Cregger bukan hanya mengandalkan jumpscare dengan musik tinggi. Ia lebih tertarik mempermainkan ekspektasi penonton. Kita tahu sesuatu yang mengerikan mungkin akan muncul, tetapi tidak pernah benar-benar bisa menebak bentuknya. Seperti zombi orang tua yang tiba-tiba muncul dengan musik seperlunya sukses membuat tubuh saya tersentak ke belakang.
Kecerdikan serupa muncul dalam adegan lift. Ketika lift yang awalnya tidak berfungsi akhirnya kembali menyala, penonton yang terbiasa memainkan gim horor tentu paham bahwa jalan keluar tidak pernah semudah itu. Cregger seolah mengerti kebiasaan pemain yang mulai berharap setelah menemukan akses baru, hanya untuk kembali dihukum oleh permainan. Ada kenikmatan tersendiri ketika film mampu menerjemahkan pengalaman semacam ini tanpa harus meniru tampilan gim secara mentah-mentah.
Meski tidak mengadaptasi cerita secara langsung dari salah satu seri cerita video game-nya, Cregger menyisipkan sejumlah referensi yang akan mudah dikenali penggemarnya. Mesin tik tua di sebuah ruangan lantai atas dan tanaman hijau di dalam mobil bukan sekadar properti acak. Dalam gim, mesin tik merupakan tempat menyimpan progres permainan, sementara tanaman hijau berfungsi memulihkan kesehatan karakter. Cregger cukup cerdik menempatkannya sebagai bagian dari dunia cerita. Ia tidak perlu menjelaskan fungsi kedua benda tersebut karena pemain gim tahu itu dan tanpa membingungkan penonton awam.
Di tengah kegilaan tersebut, kepiawaian Austin Abrams patut di apresiasi. Bryan bukan sosok jagoan laga yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia lebih menyerupai pemain gim yang baru pertama kali berhadapan dengan situasi semacam ini: kebingungan, panik, dan terus berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Abrams membawakan reaksi tersebut melalui akting fisik yang cukup total. Ia berlari, terengah-engah, menjerit, bahkan menangis. Alih-alih membuat Bryan terlihat seperti pahlawan, penampilannya justru mempertahankan kesan bahwa ia hanyalah NPC (baca manusia biasa) yang sedang berusaha bertahan hidup.
Meski kabarnya banyak dipangkas, humor yang tersisa dalam film juga membantu menjaga karakter Bryan tetap menarik. Reaksinya terhadap berbagai kejadian absurd sering kali terasa seperti respons spontan seseorang yang tidak pernah membayangkan akan menghadapi monster semacam itu. Komedi tersebut tidak sampai menghilangkan ancaman, justru memberi ruang bagi karakter untuk memperlihatkan betapa tidak masuk akalnya situasi yang sedang dihadapi.
Setelah serangkaian misi dengan tingkat kesulitan yang terus meningkat, penyelesaian ceritanya terasa kurang sepadan. Cregger tampak jauh lebih menikmati proses membangun kekacauan dan justru kesulitan merapikan seluruh persoalan yang sudah ia perkenalkan. Bagian klimaks di laboratorium terasa “terlampau konyol” untuk ketegangan yang sudah dibangun sejak awal. Pada titik ini, kesetiaan terhadap struktur gim justru membatasi perkembangan sinematiknya.
Meski demikian, film ini tetap menjadi salah satu adaptasi gim dengan pendekatan paling relate dari waralaba Resident Evil. Cregger memang tidak menghadirkan karakter ikonik dari gim, “saya merasa tidak ada gunanya jika harus menceritakan ulang kisah Leon, karena versi gimnya sudah melakukan tugas itu dengan sangat luar biasa,” katanya dalam sebuah wawancara. Ia memilih sudut pandang baru dari seorang Non-Player Character (NPC) dalam menghadapi kekacauan wabah virus dalam waralaba ini, namun tetap membuat para pecinta gim ini merasa terhubung.