Linguistik Lintas Batas Penjual Bensin Eceran

Katanya, ada dua hal di dunia ini yang batasnya sangat tipis dan sulit dibedakan: orang genius dan orang yang sedang kepepet.

Saya berhenti dan menepi di Jl. Sumberwudi – Sekaran untuk menyambung nyawa motor. Di depan sebuah rumah yang diapit persawahan.

Lumrahnya penjual bensin eceran tidak neko-neko soal tipografi. Mereka cukup menulis “Bensin” dengan cat seadanya. Tapi, penjual satu ini rupanya memiliki kemampuan linguistik lintas batas.

Bagaimana tidak, ia menggabungkan alfabet dari dua budaya bahasa berbeda: “Ben” dan “س”.

Saya sempat terdiam beberapa detik. Bukan karena tidak bisa membaca, justru karena anehnya saya tetap bisa membacanya dan tahu apa maksudnya. Secara fonetik, ini akurat!

Penjual memikirkannya dengan teramat detil. Ia menulis hijaiyah ”س” tanpa harakat yang membuat pelafalannya selaras dengan tujuan awal kata. Andaikan ia menambah harakat entah fathah atau kasrah, tentu itu akan menyimpang dengan niat awal. Apalagi jika diberi dhammah, interpretasi orang akan mengarah kepada akronim nama salah satu presenter kondang Indonesia. Pasti itu tidak diinginkan sama sekali.

Entah apa alasannya berbuat demikian, apa urgensinya mencampuradukkan dua budaya tulis? Saya pun tidak sempat bertanya.

Sepanjang sisa perjalanan saya hanya bisa membatin skenario yang mungkin terjadi pada hari di mana papan itu dicat:

Pertama, si penjual memang sudah merencanakan desain sedemikian rupa untuk menarik membuat orang yang lalu-lalang tertarik.

Kedua, kejadian itu antara disengaja atau tidak. Bisa jadi berdagang bensin eceran hanyalah usaha sampingan. Profesi utamanya adalah seorang guru ngaji. Karena setiap sore terbiasa mengoreksi tajwid dan menulis kaligrafi di papan tulis, alam bawah sadarnya mengambil alih saat ia memegang kuas cat. Niat hati ingin menulis “sin” dengan huruf Latin, tapi tangan secara otomatis menggambar tiga lengkungan khas huruf Arab tersebut.

Terakhir adalah murni diluar rencana. Mungkin setelah selesai menuliskan tiga abjad pertama ia baru sadar sisa catnya tinggal sedikit dan tidak cukup untuk mengcover tiga huruf terakhir. Jika saat itu ia memutuskan untuk berangkat membeli cat lagi sudah tentu akan menyita waktu, cat sisa tadi akan mengering dan sungguh itu adalah perbuatan mubazir. Akhirnya, situasi yang menjepit itu memaksanya untuk mengeluarkan potensinya dalam mendobrak norma kebahasaan yang ada.

Namun setelah dipikir-pikir, mungkin memang begitulah nasib bahasa. Selama orang lain masih paham maksudnya, aturan kadang cuma formalitas yang datang belakangan. Bukankah kita juga santai saja membaca “jujurly”, “ngoding”, atau berbagai bentuk campur-campur lain

Apakah secara aturan bahasa diperbolehkan? Saya tidak tahu. Saya pernah menyimak konten Pak Ivan Lanin pendiri Narabahasa dalam instagram pribadinya yang mengulas kata “sefruit” dalam sefruit info bos!

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top