
Desain landing page yang bagus akan sia-sia jika pengunjung tidak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.
Banyak dari teman-teman mungkin menghabiskan waktu berjam-jam memilih warna tombol CTA (Call to Action), tetapi melupakan aspek yang jauh lebih krusial, yaitu penempatan atau posisi tombol tersebut.
Salah menaruh posisi CTA bisa berakibat fatal. Pengunjung bisa saja keluar dari website tanpa melakukan aksi apa pun karena mereka tidak melihat tombol pembelian di saat minat mereka sedang tinggi.
Posisi yang strategis dapat memandu mata pengunjung secara alami untuk melakukan klik.
Nah, kali ini saya akan membagikan riset dan strategi terbaik mengenai penempatan CTA di landing page. Penasaran? Simak ulasannya berikut ini!
Memahami Mitos Above the Fold: Apakah CTA Harus Selalu di Atas?
Istilah above the fold merujuk pada area layar yang langsung terlihat oleh pengunjung saat pertama kali membuka website tanpa perlu melakukan scrolling.
Banyak praktisi SEO dan desainer web berpegang teguh pada aturan bahwa CTA utama wajib berada di area ini agar langsung terlihat.
Namun, aturan ini tidak berlaku mutlak untuk semua situasi.
Jika penawaran teman-teman bersifat sederhana, gratis, atau berisiko rendah seperti “Daftar Newsletter” atau “Download Ebook Gratis”, menempatkan CTA di bagian paling atas memang efektif. Pengunjung tidak butuh banyak pertimbangan untuk melakukan klik.
Sebaliknya, jika produk teman-teman mahal, kompleks, atau membutuhkan edukasi seperti jasa konsultasi atau software berbayar, meminta pengunjung untuk “Beli Sekarang” di detik pertama justru bisa menurunkan konversi. Karena mereka butuh membaca penjelasannya terlebih dahulu sebelum siap mengambil keputusan.
Ditambah lagi, perilaku pengguna internet saat ini juga sudah berubah. Riset dari Nielsen Norman Group menunjukkan bahwa meskipun area above the fold mendapatkan 57% waktu tonton, pengguna sekarang sudah sangat terbiasa menggeser layar, sehingga menempatkan CTA di bawah area tersebut untuk produk kompleks justru bisa lebih efektif.
Konsep AIDA dalam Penentuan Posisi CTA

Teman-teman bisa menggunakan rumus klasik pemasaran AIDA yaitu Attention, Interest, Desire, Action untuk menentukan letak tombol yang pas sesuai tahapan psikologis pengunjung saat membaca halaman.
Berikut adalah penerapannya:
1. Attention (Bagian Hero/Header)
Tempatkan CTA pertama di sini. Tombol ini berfungsi untuk melayani pengunjung yang sudah kenal produk teman-teman atau hot leads yang sudah siap beli tanpa perlu membaca lebih panjang.
2. Interest & Desire (Tengah Konten)
Saat teman-teman menjelaskan masalah dan solusi di badan artikel, minat pembaca mulai tumbuh. Jadi jangan biarkan mereka mencari-cari tombol.
Sisipkan CTA di antara paragraf atau setelah penjelasan poin penting. Sebaiknya gunakan CTA berbentuk anchor text terasa lebih alami dan menyatu dengan alur bacaan.
3. Action (Bagian Bawah Halaman)
Ini adalah jaring pengaman. Setelah teman-teman selesai memberikan semua informasi dan pembaca sampai di bagian paling bawah, berikan satu tombol CTA penutup yang jelas. Jangan memaksa pembaca harus scroll jauh-jauh kembali ke atas hanya untuk mendaftar.
Baca juga: Panduan Menerapkan AIDA di Copywriting Landing Page untuk Tingkatkan Konversi
Memanfaatkan Pola Mata F-Pattern dan Z-Pattern

Mengetahui ke mana arah mata pengunjung bergerak secara alami akan memudahkan teman-teman menempatkan tombol di jalur yang pasti dilewati pandangan mereka.
Ada dua pola umum yang sering ditemukan:
1. F-Pattern (Pola Huruf F)
Pola ini biasanya terjadi pada halaman yang memuat banyak teks, seperti artikel blog ini. Mata pembaca akan memindai dari kiri ke kanan di bagian atas, lalu turun sedikit dan memindai lagi (namun lebih pendek), dan akhirnya hanya memindai sisi kiri secara vertikal.
Strategi:
Jika halaman teman-teman penuh teks, letakkan CTA di sebelah kiri atau di tengah agar tetap terlihat.
Hindari menaruh tombol penting di sisi kanan bawah tanpa penanda visual yang kuat, karena area ini sering terlewat.
2. Z-Pattern (Pola Huruf Z)
Pola ini umum terjadi pada landing page yang minimalis dan menonjolkan visual. Mata bergerak dari pojok kiri atas ke kanan atas, lalu melintang diagonal ke kiri bawah, dan berakhir di kanan bawah.
Strategi:
Letakkan logo di kiri atas, tombol navigasi atau login di kanan atas, informasi utama di tengah diagonal, dan CTA utama di akhir pola Z tersebut (biasanya di tengah atau kanan bawah area header).
Strategi Penempatan CTA di Mobile (Smartphone)
Tampilan di layar komputer dan ponsel pintar sangat berbeda. Karena layarnya lebih kecil, teman-teman harus menyesuaikan strategi penempatan tombolnya agar tetap efektif.
1. Gunakan Sticky CTA (Tombol Melayang)
Pada perangkat mobile, halaman website seringkali menjadi sangat panjang secara vertikal. Agar pengunjung tidak perlu scroll jauh ke atas atau ke bawah untuk menemukan tombol, gunakanlah Sticky CTA.
Strategi ini menempatkan tombol di posisi yang menempel (biasanya di bagian bawah layar) meskipun pengunjung menggulir halaman. Cara ini memastikan tombol selalu tersedia kapan pun pengunjung siap untuk membeli.
2. Perhatikan Thumb Zone (Zona Jempol)
Sebagian besar orang memegang ponsel dengan satu tangan dan menggunakan jempol untuk navigasi. Area yang paling mudah dijangkau oleh jempol adalah bagian tengah hingga bawah layar.
Sebaliknya, pojok kiri atas layar adalah area yang paling sulit dijangkau. Oleh karena itu, letakkan tombol CTA utama teman-teman di area yang mudah diraih jari, yaitu di tengah atau bawah layar.
Optimasi ini sangat krusial. Dengan lebih dari 50% trafik web global kini berasal dari perangkat seluler menurut data Statcounter, memastikan tombol CTA berada di zona nyaman jempol adalah kewajiban, bukan pilihan.
Kesalahan Umum Penempatan yang Membunuh Konversi
Seringkali kita merasa desain sudah bagus, tapi konversi tetap rendah. Coba cek apakah teman-teman melakukan salah satu dari tiga kesalahan penempatan ini:
1. Meminta Terlalu Cepat
Jangan menyodorkan tombol “Beli Sekarang” sebelum pengunjung paham apa manfaat produknya bagi mereka.
Terlebih lagi jika produk teman-teman membutuh penjelasan teknis, fokuslah pada edukasi terlebih dahulu di bagian awal, baru berikan tombol pembelian setelah penjelasannya tuntas.
2. Terlalu Ramai
Hindari meletakkan CTA berhimpitan dengan elemen lain yang ramai, seperti gambar yang rumit atau paragraf yang padat.
Jika tampilan di sekeliling tombol terlalu semrawut, mata pengunjung akan terdistraksi dan tombol tersebut malah di-notice.
3. Konflik Dua Tombol
Terakhir, menaruh dua tombol berbeda misalnya “Beli Sekarang” dan “Pelajari Lebih Lanjut” secara berdampingan dengan warna dan ukuran yang sama persis akan membingungkan pengunjung.
Akibatnya, mereka malah tidak memilih keduanya. Jika harus ada dua pilihan, pastikan tombol utama dibuat jauh lebih mencolok dibanding tombol sekunder.
Kesimpulan
Pada akhirnya, tidak ada satu titik ajaib yang pasti berhasil untuk semua jenis bisnis. Penempatan CTA yang efektif adalah kombinasi dari memahami psikologi pengunjung, menyesuaikan dengan alur konten, dan memastikan kenyamanan akses di perangkat mobile.
Teman-teman bisa mencoba strategi kombinasi, letakkan satu CTA di hero section untuk pengunjung yang buru-buru, satu CTA kontekstual di tengah artikel saat minat mereka mulai tumbuh, dan satu sticky CTA atau tombol penutup di akhir halaman sebagai jaring pengaman.
Langkah selanjutnya yang bisa teman-teman lakukan adalah berhenti menebak-nebak. Gunakan tools seperti Hotjar atau Microsoft Clarity untuk melihat heatmap website teman-teman, atau lakukan A/B Testing sederhana untuk melihat di posisi mana perhatian banyak pengunjung tertuju.
Selamat mencoba dan semoga konversi landing page teman-teman meningkat!
Baca juga: 75 Contoh Kata-kata CTA Ampuh untuk TikTok, Instagram, Landing Page
Referensi:
- https://www.nngroup.com/articles/scrolling-and-attention/
- https://www.nngroup.com/articles/f-shaped-pattern-reading-web-content/
- https://gs.statcounter.com/platform-market-share/desktop-mobile-tablet