
Pada judul, kira-kira begitulah tanya penjaga toko saat ada seorang yang ingin menambah saldo dompet digital. Mau DANA, QIRIS, tak jadi soal. Mau tarik tunai juga oke.
Mau “toab DANA” atau “top up Dana”, tak soal. Yang penting semua orang paham itu menawarkan jasa yang sama. Saya pernah menemui penjual bensin yang menulis gabungan huruf indonesia dan arab di papan kayu. Melihat sekumpulan bensin dalam botol di dalam kotak pinggir jalan, semua orang paham.
Jika soal DANA itu orang mudah paham. Tapi maksud kata QIRIS dalam rentetan kata di sana bikin orang awam fintech bisa gagal paham. QRIS itu kan standar kode Quick Response untuk pembayaran, bukan dompet digital. Jadi maksud si pemilik tentu itu sebagai pengumuman warung menerima pembayaran scan kode batang.
Soal iman dalam usaha, orang Madura memang tidak kaleng-kaleng. Mungkin hanya orang mereka yang berani jual bensin eceran di depan pintu keluar SPBU. Mungkin hanya mereka juga yang berani buka toko kelontong dan menantang ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart langsung di depan wajahnya. Secara hitung-hitungan bisnis tentu hampir tak masuk akal.

Habib Husein Ja’far Al Hadar pernah membahasnya dalam sebuah kolom di mojok.co. Ia menanyakan fenomena tadi kepada seorang penjaga warung Madura, dan jawabnya enteng saja, “Rezeki udah ada yang ngatur, jadi ndak usah khawatir.” (saya membayangkan dengan logat Madura)
Jadi soal kertas pengumuman singkat itu mungkin lagi-lagi soal iman. Si pemilik percaya saja orang-orang akan paham dengan apa yang dimaksudnya.
Apakah saya habis toab? Tidak. Saya hanya menepi untuk membeli bensin yang ada dalam lemari itu. Saya bahkan tidak punya DANA dan sebangsanya. Kalau belanja di toko daring biasanya cash on delivery.