
Seperti nasi goreng, pecel lele juga memiliki kedudukan yang setara di opsi makanan para pekerja urban seperti saya. Dengan upah pas-pasan, ia menjadi pahlawan saat kelaparan melanda.
Namun, sebagai warga asli Lamongan, saya agak terheran-heran saat merantau dan mampir ke beberapa kios dan tenda di kawasan Surabaya Selatan.
Bayangkan, dengan uang 12 ribu rupiah, kita sudah bisa mendapatkan seporsi nasi lengkap dengan lele goreng, sambal, dan lalapan – kadang dikasih terong goreng juga. Padahal, di tanah kelahirannya sendiri, uang 12 ribu itu mentok cuma cukup buat beli lelenya doang. Belum termasuk nasi, es teh, apalagi kerupuk.
Terdengar seperti sebuah paradoks yang absurd. Bagaimana mungkin makanan khas daerah harganya malah lebih mahal di kota asalnya sendiri dibandingkan di kota metropolitan? Apalagi jika dilihat dari UMK masing-masing – sungguh janggal.
Tapi, sebelum kalian mengira dan menghakimi, “Berarti penjual di Lamongan terlalu banyak mengambil untung.” Sebagai anak penjual pecel lele di Lamongan, izinkan saya memberi bantahan.
Jelas ukuran lelenya berbeda
Saat makan pecel lele di Surabaya Anda akan mendapat lele dengan gramasi lebih kecil. Penjual rata-rata menggunakan ikan lele yang berisi 7-8 ekor perkilonya, dengan isi hidangan tiap porsi masing-masing satu.
Sedangkan, penjual pecel lele di Lamongan biasanya memilih lele yang lebih besar yaitu berisi 5-6 ekor perkilonya.
Otentisitas dan kualitas bahan sambal
Sambal adalah roh dari hidangan pecel lele itu sendiri. Sehingga bagi penjual di Lamongan ini soal otentisitas. Mereka pantang “main-main” dengan esep leluhur.
Tomatnya segar, cabainya berkualitas, dan terasinya menggunakan terasi pesisir kelas satu. Bahkan ada yang mencampur kacang mete atau wijen agar sambalnya bertekstur kental dan nendang.
Sementara itu, demi menekan harga jual di Surabaya, terasinya mungkin beralih ke versi curah, tomatnya masih banyak mengandung air, dan komposisi minyak diperbanyak agar volumenya bertambah. Rasanya tetap enak sih, tapi tingkat “medoknya” jelas beda.
Target pasar yang peduli rasa atau asal perut kenyang
Perbedaan target pasar sangatlah berpengaruh. Pembeli di Surabaya di dominasi oleh para mahasiswa dan pekerja domestik hingga perantauan yang sensitif soal hitung-hitungan kantong. Bagi mereka, kenyang adalah yang utama. Rasa menjadi yang kesekian, asalkan bisa bertahan sampai akhir bulan.
Sebaliknya, di Lamongan, penikmat pecel lele kebanyakan warga lokal atau mereka para pelancong yang berburu kuliner khas daerah. Bagi Warlok, harga tersebut menjadi hal yang lumrah karena tahu harga bahan di daerah sekitar. Sedangkan para pelancong tentu rasa dan kualitas lah yang utama.
Strategi bisnis yang berbeda
Terakhir dan yang paling esensial adalah strategi bisnis keduanya. Penjual di Surabaya mengandalkan strategi volume penjualan. Biar saja untungnya cuma seribu atau dua ribu yang penting bisa jual puluhan sampai ratusan porsi.
Penjual di Lamongan tentu tidak bisa memakai pendekatan itu. Dengan potensi pelanggan tidak semasif di Surabaya, mereka memilih bermain di jaminan kualitas dan rasa agar bisa mengambil margin keuntungan yang sehat.
Jadi, dengan empat alasan tadi saya harap kita tidak mudah memvonis mahal dan murahnya suatu hidangan. Setiap hidangan punya cerita, setiap sajian punya value yang dibawa.