
Pernahkah teman-teman merasa produk sudah bagus, tapi penjualan masih kalah dari kompetitor?
Nah, kejadian tersebut sering kali masalahnya bukan pada kualitas produk, melainkan cara memperkenalkan brand teman-teman ke pasar.
Karena semakin kesini, dengan membanjirnya produk dan brand baru, konsumen menjadi sangat pemilih mana produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan posisi brand kita sudah selaras dengan value yang kita tawarkan ke target market kita.
Agar tidak salah langkah, mari kita bahas tujuh kesalahan dalam membangun brand positioning yang wajib teman-teman hindari.
1. The Generalist Trap
Kesalahan paling umum yang sering dilakukan adalah menargetkan pasar yang terlalu luas. Sering kali, teman-teman merasa takut kehilangan potensi pembeli jika hanya fokus pada kelompok tertentu.
Padahal, mencoba menyenangkan semua orang justru membuat karakter brand menjadi kabur. Akibatnya, pesan yang disampaikan terasa hambar dan tidak relevan bagi siapa pun.
Ada sebuah kalimat “When you speak to everyone, you speak to no one”. Sama seperti branding, jika teman-teman mencoba menjual kepada semua orang, artinya teman-teman tidak menjual kepada siapa pun.
Konsumen saat ini lebih menyukai brand yang spesifik dan paham betul kebutuhan mereka. Jadi, jangan ragu untuk memilih pasar yang lebih khusus. Kenali audience persona dan temukan problem mereka.
2. Tidak Konsisten di Berbagai Platform
Kesalahan kedua adalah menampilkan “wajah” yang berbeda-beda di setiap saluran media.
Misalnya, gaya bahasa teman-teman di Instagram terdengar santai dan akrab, tetapi saat konsumen membuka website, bahasanya berubah menjadi sangat kaku dan formal.
Perbedaan tersebut akan membuat konsumen bingung dan ragu terhadap kredibilitas bisnis teman-teman.
Padahal, menjaga keseragaman pesan itu sangat penting. Sebuah data terbaru tahun 2025 menyebutkan bahwa bisnis yang konsisten menjaga brand mereka di semua platform mengalami peningkatan pendapatan hingga 20% atau lebih.
Maka dari itu, pastikan elemen visual, tone of voice, dan pesan utama brand teman-teman selalu selaras di mana pun berada.
3. Mengabaikan Kepercayaan dan Bukti Sosial
Kesalahan ketiga adalah terlalu fokus mempromosikan keunggulan produk (hard selling) namun lupa membangun reputasi.
Seringkali kita sibuk mempromosikan bahwa produk kitalah yang terbaik, termurah, atau tercepat. Padahal, konsumen masa kini cukup skeptis. Mereka tidak akan langsung menelan mentah-mentah klaim sepihak dari pemilik brand. Mereka butuh bukti nyata.
Data terbaru menunjukkan fakta menarik, bahwa 81% konsumen harus merasa percaya terlebih dahulu pada sebuah brand sebelum mereka mempertimbangkan untuk membeli produknya.
Oleh karena itu, dalam menyusun posisi brand, jangan hanya bicara soal fitur. Tampilkan juga ulasan pelanggan, testimoni, atau pencapaian yang bisa menjadi bukti sosial agar teman-teman lebih mudah dipercaya.
4. Terlalu Fokus pada Perang Harga
Banyak pebisnis yang terjebak menjadikan harga murah sebagai satu-satunya daya tarik utama.
Memosisikan brand teman-teman sebagai “yang termurah” adalah strategi yang cukup berisiko. Mengapa? Karena loyalitas pelanggan yang didapat dari strategi ini sangat rapuh.
Mereka hanya setia pada harga, bukan pada brand teman-teman. Begitu ada kompetitor yang banting harga lebih rendah, mereka akan langsung pindah.
Buatlah mereka setia pada kualitas produk teman-teman dan nilai yang teman-teman tawarkan. Karena konsumen yang sudah merasa cocok biasanya tidak akan mengambil resiko untuk mencoba produk lain.
Selain itu, faktanya, konsumen melihat produk juga tidak melulu soal harga. Riset pengalaman pelanggan tahun 2025 menemukan bahwa 86% pembeli justru bersedia membayar lebih demi mendapatkan layanan dan pengalaman yang lebih baik.
Jadi, daripada berdarah-darah dalam perang harga, lebih baik teman-teman fokus meningkatkan kualitas layanan dan nilai produk.
5. Terlalu Banyak Janji Tapi Minim Bukti
Sering kali demi menarik perhatian, kita membuat janji pemasaran yang terlalu tinggi. Misalnya, menjanjikan pengiriman tercepat atau kualitas nomor satu, padahal operasional bisnis belum siap memenuhinya.
Ini adalah kesalahan fatal. Ketika realita yang diterima konsumen tidak sesuai dengan janji manis iklan, kepercayaan mereka akan hancur seketika. Ditambah, era media sosial saat ini, kekecewaan pelanggan bisa menyebar dengan sangat cepat dan merusak reputasi.
Perlu teman-teman ketahui, data menyebutkan bahwa satu dari tiga pelanggan akan langsung meninggalkan brand yang mereka sukai hanya setelah satu kali pengalaman buruk.
Jadi, pastikan posisi brand yang teman-teman bangun benar-benar sesuai dengan kemampuan nyata bisnis. Kejujuran jauh lebih dihargai daripada janji manis yang tidak terbukti.
6. Gagal Membaca Kebutuhan Pasar
Kesalahan selanjutnya sering kali disebabkan oleh ego kita sendiri sebagai pebisnis. Terkadang, kita bersikeras menjual produk atau ide yang menurut kita sangat bagus, padahal pasar tidak membutuhkannya.
Mempertahankan posisi brand yang tidak relevan dengan keinginan konsumen adalah langkah yang sia-sia. Teman-teman mungkin sudah berjuang keras, tapi hasilnya nihil karena memang tidak ada yang mencari solusi tersebut.
Fakta di lapangan cukup mengejutkan. Dikutip dari Demandsage, statistik tahun 2025 mengungkapkan bahwa 42% bisnis baru mengalami kegagalan semata-mata karena tidak ada kebutuhan pasar (no market need) untuk produk yang mereka buat.
Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan asumsi pribadi. Selalu lakukan riset dan dengarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh target audiens teman-teman.
7. Pesan yang Terlalu Rumit
Kesalahan terakhir adalah menggunakan bahasa yang terlalu teknis atau rumit. Sering kali kita ingin terlihat pintar dan canggih dengan menggunakan banyak istilah industri, namun hal ini justru membuat audiens menjauh.
Tujuan utama positioning adalah menanamkan pesan di benak konsumen secepat mungkin. Jika teman-teman menggunakan kalimat yang berbelit-belit, konsumen akan kesulitan menangkap apa sebenarnya manfaat produk yang ditawarkan.
Gunakanlah bahasa yang sederhana dan manusiawi. Bayangkan teman-teman sedang menjelaskan produk kepada orang tua atau teman yang awam. Jika mereka bisa langsung paham dalam sekali dengar, berarti pesan brand teman-teman sudah tepat dan efektif.
Cara Memperbaiki Brand Positioning yang Salah
Jika teman-teman merasa brand bisnis saat ini mengalami salah satu gejala di atas, jangan panik.
Masih ada waktu untuk memutar setir dan memperbaikinya. Berikut langkah praktis yang bisa segera dilakukan:
- Audit Aset Digital: Coba cek kembali semua akun media sosial dan website teman-teman. Pastikan foto profil, gaya penulisan, dan info bio sudah seragam dan senada.
- Cek Kompetitor: Lihat apa yang dilakukan pesaing. Pastikan teman-teman menawarkan sesuatu yang berbeda, bukan sekadar meniru apa yang mereka lakukan.
- Dengarkan Pelanggan: Lakukan survei kecil-kecilan. Tanyakan kepada pelanggan setia, apa sebenarnya alasan mereka membeli produk teman-teman. Jawaban mereka sering kali adalah kunci positioning yang sesungguhnya.
Kesimpulan
Membangun posisi brand yang kuat memang tidak bisa instan, tetapi ini adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga.
Kesalahan dalam menentukan posisi brand hanya akan membuang waktu dan biaya pemasaran teman-teman. Jadi, hindari keinginan untuk menjadi segalanya bagi semua orang, jaga konsistensi, dan jangan terjebak dalam perang harga yang merugikan.
Semoga pembahasan ini bisa membantu teman-teman menemukan celah pasar yang tepat dan membuat bisnis semakin berkembang. Selamat mencoba!
Baca juga: Apa itu Internal Branding? Definisi, Manfaat, dan Strategi Membangunnya
Referensi:
- https://humantobrand.com/2025-personal-branding-insights-statistics-and-trends/
- https://wiserreview.com/blog/branding-statistics/
- https://www.superoffice.com/blog/customer-experience-statistics/