Panduan Menerapkan AIDA di Copywriting Landing Page untuk Tingkatkan Konversi

Menerapkan Copywriting AIDA Landing Page

Apakah website teman-teman ramai pengunjung tapi sepi pembeli? Jangan buru-buru menyalahkan produknya. Kemungkinan besar, masalahnya ada pada copywriting-nya.

Di internet, orang ingin informasi cepat. Jika tulisan teman-teman membingungkan atau membosankan, mereka akan langsung pergi.

Selain itu, kalimat yang digunakan harus bisa memancing emosi (dalam arti positif ya) pengunjung agar mereka tertarik dengan produk kita.

Salah satu rumus copywriting yang sering digunakan adalah AIDA. Metode ini sering digunakan untuk membuat caption promosi di sosial media.

Lalu bagaimanakah jika diterapkan di landing page? Nah, silahkan teman-teman simak panduan berikut ini!

Mengenal Sekilas AIDA

Sebelum kita masuk ke praktek, mari kita pahami dulu singkatannya. AIDA adalah empat tahapan psikologis yang dilalui seseorang sebelum memutuskan untuk membeli produk:

  • Attention: Menangkap fokus pengunjung agar berhenti menggulir layar.
  • Interest: Membuat mereka tertarik membaca lebih lanjut.
  • Desire: Memicu hasrat untuk memiliki produk tersebut.
  • Action: Mengarahkan mereka untuk membeli atau mendaftar.

Jika struktur ini hilang, pengunjung akan bingung dengan alur penawaran teman-teman. Mari kita bedah satu per satu penerapannya.

Cara Membuat Copywriting di Landing Page dengan AIDA: Studi Kasus Aplikasi “KopiPos”

Setelah mengetahui sekilas tentang rumus AIDA, sekarang mari kita terapkan setiap tahapannya di dalam sebuah landing page.

Supaya lebih mudah dipahami, kali ini kita akan langsung mencoba studi kasus membuat landing page untuk produk aplikasi Point of Sales (POS) yang bernama “KopiPos”.

Berikut panduannya:

1. Attention: Tangkap Perhatian di Detik Awal

Tahap pertama ini terjadi di bagian paling atas website atau sering disebut hero section.

Tugas utamanya sederhana yaitu membuat pengunjung berhenti dan membaca. Teman-teman tidak boleh membuang waktu di sini karena rentang perhatian pengguna internet sangat pendek.

Menurut riset, pengguna rata-rata hanya menghabiskan waktu sekitar 10-20 detik di sebuah halaman web untuk memutuskan apakah akan lanjut membaca atau pergi.

Jadi solusinya adalah buatlah judul utama atau headline yang langsung membahas masalah atau manfaat terbesar bagi pengguna.

Agar lebih mudah dipahami, kita akan pakai contoh studi kasus aplikasi kasir untuk warung kopi bernama KopiPos.

Contoh Penerapan:

  • Hindari: KopiPos adalah Aplikasi Kasir Terbaik. (Ini membosankan karena hanya berfokus pada diri sendiri).
  • Disarankan: Kelola Orderan Kopi Tanpa Pusing, Fokus Meracik Rasa Terbaik. (Ini menarik perhatian karena langsung menawarkan solusi dari masalah pemilik kedai kopi yang sering pusing mengurus orderan).

Pastikan headline teman-teman terbaca dengan jelas. Untuk lebih lengkapnya teman-teman bisa mempelajari cara menulis headline yang memikat dalam 3 detik.

2. Interest: Buat Penasaran dengan Empati

Setelah teman-teman berhasil membuat pengunjung berhenti di headline, langkah selanjutnya adalah menjaga minat mereka agar terus membaca ke bawah.

Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan menunjukkan rasa empati. Teman-teman harus membuktikan bahwa teman-teman memahami masalah yang sedang mereka hadapi.

Sentuh sisi emosional mereka dengan membahas kendala sehari-hari yang membuat mereka frustrasi.

Jika teman-teman bisa menjabarkan masalah mereka dengan tepat, mereka akan merasa relate dan tertarik dengan solusi yang teman-teman tawarkan.

Contoh penerapan:

  • Kalimat: “Sering mengalami selisih uang di laci kasir saat tutup toko? Atau pelanggan marah karena pesanan kopi mereka tertukar saat jam sibuk?”
  • Kalimat: “Kami mengerti, mengurus operasional kedai sendirian itu melelahkan. Waktu teman-teman habis hanya untuk merekap nota manual, padahal seharusnya bisa dipakai untuk istirahat.”

3. Desire: Yakinkan Pengunjung Produk Kita Solusinya

Sekarang pembaca sudah sadar akan masalahnya. Saatnya teman-teman membuat mereka menginginkan produk tersebut. Ini adalah tahap transisi dari “Saya punya masalah” menjadi “Saya butuh produk ini“.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penulis terlalu fokus pada fitur atau spesifikasi produknya, padahal pembaca lebih peduli pada manfaat atau apa hasil positifnya bagi hidup mereka.

Selain itu, tambahkan bukti sosial atau testimoni di bagian ini untuk meyakinkan mereka bahwa produk teman-teman terpercaya.

Sebuah riset menunjukkan bahwa menampilkan ulasan atau review dapat meningkatkan konversi hingga 270%, terutama untuk produk dengan harga tinggi.

Contoh penerapan:

Mari kita ubah fitur teknis menjadi manfaat yang menggiurkan:

  • Fitur: Manajemen Stok Real-time.
  • Tulis: “Tidak ada lagi kejadian kehabisan biji kopi di tengah hari. Teman-teman akan dapat notifikasi otomatis saat stok menipis.“
  • Fitur: Laporan Keuangan Otomatis.
  • Tulis: “Lihat keuntungan harian teman-teman cukup lewat HP sambil bersantai. Laporan tersaji rapi tanpa perlu pusing menghitung manual.“

Dengan cara ini, pembaca tidak hanya melihat sekedar spesifikasi, tapi melihat kemudahan hidup yang akan mereka dapatkan.

4. Action: Arahkan untuk Bertindak

Terakhir, tentu saja memberitahu pengunjung apa yang harus dilakukan selanjutnya. Teman-teman bisa memberikan tombol Call to Action (CTA).

Buat desain dan warna tombol terlihat jelas, menonjol, dan tidak membingungkan. Teman-teman bisa mempelajari cara memilih warna CTA berdasarkan psikologi.

Selain itu, sebaiknya hindari menggunakan kata-kata standar yang kaku seperti submit atau kirim. Gunakan kalimat ajakan yang memberikan nilai tambah atau terdengar berisiko rendah. 

Contoh penerapan:

  • Kurang Bagus: “Daftar Sekarang”.
  • Lebih Bagus: “Coba Gratis 14 Hari” atau “Rapikan Laporan Saya Sekarang”. (Terasa lebih ringan dan menawarkan manfaat langsung).

Baca juga: 75 Contoh Kata-kata CTA Ampuh untuk TikTok, Instagram, Landing Page

Kesalahan Umum Saat Menerapkan AIDA

Meskipun rumusnya terlihat sederhana, masih banyak yang melakukan kesalahan fatal saat mempraktekkannya. Hindari hal-hal berikut ini:

  • Judul yang Terlalu Puitis: Menggunakan kata-kata indah tapi tidak jelas maksudnya. Ingat, kejelasan lebih penting daripada keindahan.
  • Teks yang Terlalu Panjang: Menulis paragraf yang padat tanpa spasi yang membuat mata pembaca lelah. Jadi sebaiknya gunakan poin-poin agar mudah dibaca.
  • Terlalu Banyak Pilihan Tombol: Memberikan tombol “Beli”, “Hubungi WA”, “Follow IG”, dan “Download Brosur” dalam satu layar. Ini membuat pengunjung bingung. Jadi fokuskan pada satu tombol yang mewakili tujuan utama saja.

Kesimpulan

Menerapkan AIDA di landing page memang susah-susah-gampang terutama bagi pemula. Namun, meski demikian seorang profesional pun tetap perlu melakukan uji coba untuk menemukan copywriting yang pas.

Mulailah dengan menarik perhatian (Attention), sentuh masalah mereka (Interest), tawarkan solusi yang menguntungkan (Desire), dan akhiri dengan ajakan yang jelas (Action).

Sekarang giliran teman-teman. Coba cek kembali landing page bisnis teman-teman, apakah sudah memenuhi 4 unsur ini? Jika belum, saatnya untuk merombak tulisan teman-teman agar penjualan meningkat.

Selamat mencoba!

Referensi:

  • https://www.nngroup.com/articles/how-long-do-users-stay-on-web-pages/
  • https://spiegel.medill.northwestern.edu/how-online-reviews-influence-sales/

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top